Kegiatan musiman 5 tahunan Pemilihan Pemimipin baru di negri tercinta kita Indonesia ini akan dimulai. Kegiatan pra pemilihan presiden baru telah gencar jauh sebelum pemilihan presiden itu sendiri. Masing-masing partai ada yang telah mendeklarasikan calon presidennya , namun ada pula yang masih pesimis sehingga menunggu hasil suara real dari KPU pasca Pemilihan Legislatif.
Setelah Pemilihan Legislatif barulah muncul para calon presiden yang mulai mendeklarasikan diri. mereka sibuk membangun koalisi, sibuk memnentukan siapakah cawapres maupun yang akan mendampingi mereka. Namun semua tak sesuai prediksi, ternyata hanya terbangun dua buah koalisi. Yang masing-masing mengusung calon presiden. Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi langsung menjadi calon presiden favorit pra maupun pasca pemenangan PDIP di pileg. Lalu di koalisi lawan mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Abu Rizal Bakrie yang sejak awal di prediksi akan mencalonkan diri sebagai presiden nampaknya harus puas hanya dengan merapat saja ke kubu Prabowo. Mungkin ARB terlalu pesimis atau dia merasa 'sadar diri' tak akan ada yang memilih atau mungkin karena tidak ada yang sedia untuk diajak koalisi.
Namun begitulah politik, teman dan lawan tak dapat dibedakan. Seperti yang kita ketahui pada pilpres sebelumnya Prabowo mendampingi Megawati sebagai cawapres artinya mereka dulu adalah teman. sayang, kini setelah menjadi lawan mereka saling menyindir dan saling menghujat.
Politik, bahkan tak hanya membuat pemainnya barlaku picik tapi juga membuat penontonnya saling mencabik. Panasnya persaingan tidak hanya terjadi pada para calon presiden dan wakilnya saja maupun jajarannya saja tapi juga terjadi di para pendukung awam mereka sekalipun. Mereka saling membaguskan dukungannya dan menyebar aib dari sang lawan. Tanpa pikir panjang, fitnah sana sini. Sebar berita yang tak jelas asalnya di berbagai sosial media nampak sebagai hal lumrah.
Lalu sekarang siapa yang harus disalahkan? Rasanya ingin segera usai. Kita tak dapat menyalahkan mengapa calon presiden harus dua pasangan. Pemilihan presiden yang akan menghabiskan 1 putaran saja ini tentu akan menghemat biaya sampai beberapa triliun. Tapi jika realita seperti ini, tetu saya akan memilih untuk menghabiskan triliuan saja daripada masyarakat harus saling menghujat demi capres pijaannya.
Bukankah kita tahu bahwa mereka juga adalah manusia biasa seperti kita. Yang tak perlu kita puja secara berlebihan. Mudah-mudahan kita dapat menyikapi ini semua dengan hati bersih.
Setelah Pemilihan Legislatif barulah muncul para calon presiden yang mulai mendeklarasikan diri. mereka sibuk membangun koalisi, sibuk memnentukan siapakah cawapres maupun yang akan mendampingi mereka. Namun semua tak sesuai prediksi, ternyata hanya terbangun dua buah koalisi. Yang masing-masing mengusung calon presiden. Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi langsung menjadi calon presiden favorit pra maupun pasca pemenangan PDIP di pileg. Lalu di koalisi lawan mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Abu Rizal Bakrie yang sejak awal di prediksi akan mencalonkan diri sebagai presiden nampaknya harus puas hanya dengan merapat saja ke kubu Prabowo. Mungkin ARB terlalu pesimis atau dia merasa 'sadar diri' tak akan ada yang memilih atau mungkin karena tidak ada yang sedia untuk diajak koalisi.
Namun begitulah politik, teman dan lawan tak dapat dibedakan. Seperti yang kita ketahui pada pilpres sebelumnya Prabowo mendampingi Megawati sebagai cawapres artinya mereka dulu adalah teman. sayang, kini setelah menjadi lawan mereka saling menyindir dan saling menghujat.
Politik, bahkan tak hanya membuat pemainnya barlaku picik tapi juga membuat penontonnya saling mencabik. Panasnya persaingan tidak hanya terjadi pada para calon presiden dan wakilnya saja maupun jajarannya saja tapi juga terjadi di para pendukung awam mereka sekalipun. Mereka saling membaguskan dukungannya dan menyebar aib dari sang lawan. Tanpa pikir panjang, fitnah sana sini. Sebar berita yang tak jelas asalnya di berbagai sosial media nampak sebagai hal lumrah.
Lalu sekarang siapa yang harus disalahkan? Rasanya ingin segera usai. Kita tak dapat menyalahkan mengapa calon presiden harus dua pasangan. Pemilihan presiden yang akan menghabiskan 1 putaran saja ini tentu akan menghemat biaya sampai beberapa triliun. Tapi jika realita seperti ini, tetu saya akan memilih untuk menghabiskan triliuan saja daripada masyarakat harus saling menghujat demi capres pijaannya.
Bukankah kita tahu bahwa mereka juga adalah manusia biasa seperti kita. Yang tak perlu kita puja secara berlebihan. Mudah-mudahan kita dapat menyikapi ini semua dengan hati bersih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar