Kelas 8
Belajar Bersyukur ^_^
Selalu belajar untuk bersyukur dan mengharap ridha-Nya.
Selasa, 15 September 2020
Kamis, 09 Juli 2020
Belajar Statistika
Seringkali kita keliru apa sih itu statistik atau Statistika. Nah, mau berbagi nih, Apa sih perbedaan antara keduanya? Sebelum mempelajarinya kita harus tau dulu dong apa yang sedang kita pelajari. Statistik sendiri yaitu berupa data yang kita olah yang kemudian disajikan dalam bentuk data ringkas. Adapun Statistika adalah ilmu yang mempelajari Statistik, yang berisi aksi kita dalam Mengumpulkan data, mengolah, menyajikan, menganalisis dan menyimpulkan data.
Minggu, 17 Mei 2020
Senin, 11 Maret 2019
Curiga
Dulu ketika awal belajar bahasa Arab, aku seringkali mencoba mengartikan do'a-do'a yang diberikan bapak dalam bahasa Arab saat kecil. Karena aku merasa seringkali kita membaca do'a namun hampa makna.
Saat itu aku tertegun dan bertanya-tanya akan arti suatu do'a.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
Do'a itu kubaca berulang-ulang lalu kucoba artikan berulang. Saat itu aku takut jangan-jangan selama ini aku salah berdo'a, jangan-jangan ada lafal yang terlewat yang seharusnya aku baca. Ada dahi yang mengkerut saat itu, bagaimana mungkin kita mengakui bahwa kita orang dzalim. Do'a yang yang sering kuucapkan itu yang baru kuketahui itu adalah do'a Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan Paus membuat aku bertanya-tanya dalam hati.
Lalu aku kembali menemukan hal yang sama pada do'a lainnya :
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
Doa ini juga doa yang diucapkan Nabi Adam saat turun ke bumi. Saat itu penasaranku tak terbendung. Lalu kutanya salah seorang guru.
Tak ada yang terlewat dalam do'a itu. Itu adalah do'a sebagai sebuah pengakuan akan dosa yang telah dilakukan katanya. Hingga akhirnya aku dimengertikan bahwa sejatinya kita adalah pribadi yang mencurigakan. Jika para nabi saja langsung mengakui dan mencurigai dirinya sendiri bagaimana dengan kita yang bukan nabi?
Kala merasa do'a tak kunjung diijabah, kemudian hati menjadi resah tak berarah, jangan-jangan ada hati yang masih belum pulih yang masih melirih akibat kita membuatnya sedih.
Kala masalah begitu banyak, ujian terasa tak berhenti menggertak, jangan-jangan masih ada dosa-dosa kita yang menyumbat rahmat-Nya sehingga hidup terasa sesak.
Kala hati terasa gerah, hidup merasa tak terarah, jangan-jangan hati kita masih hampa dari dzikrullah.
Kala merasa orang lain berperilaku tak sesuai ekspektasi, mencela namun tampak memuji, jangan-jangan hati kita yang masih tak lapang dan dikuasai penyakit hati.
Karena sejatinya yang harus paling dicurigai adalah diri kitu sendiri.
Sudahkah curiga bagaimana nasib kita di akhirat nanti?
#selfreminder #maricurigaidiri
Saat itu aku tertegun dan bertanya-tanya akan arti suatu do'a.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
Do'a itu kubaca berulang-ulang lalu kucoba artikan berulang. Saat itu aku takut jangan-jangan selama ini aku salah berdo'a, jangan-jangan ada lafal yang terlewat yang seharusnya aku baca. Ada dahi yang mengkerut saat itu, bagaimana mungkin kita mengakui bahwa kita orang dzalim. Do'a yang yang sering kuucapkan itu yang baru kuketahui itu adalah do'a Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan Paus membuat aku bertanya-tanya dalam hati.
Lalu aku kembali menemukan hal yang sama pada do'a lainnya :
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
Doa ini juga doa yang diucapkan Nabi Adam saat turun ke bumi. Saat itu penasaranku tak terbendung. Lalu kutanya salah seorang guru.
Tak ada yang terlewat dalam do'a itu. Itu adalah do'a sebagai sebuah pengakuan akan dosa yang telah dilakukan katanya. Hingga akhirnya aku dimengertikan bahwa sejatinya kita adalah pribadi yang mencurigakan. Jika para nabi saja langsung mengakui dan mencurigai dirinya sendiri bagaimana dengan kita yang bukan nabi?
Kala merasa do'a tak kunjung diijabah, kemudian hati menjadi resah tak berarah, jangan-jangan ada hati yang masih belum pulih yang masih melirih akibat kita membuatnya sedih.
Kala masalah begitu banyak, ujian terasa tak berhenti menggertak, jangan-jangan masih ada dosa-dosa kita yang menyumbat rahmat-Nya sehingga hidup terasa sesak.
Kala hati terasa gerah, hidup merasa tak terarah, jangan-jangan hati kita masih hampa dari dzikrullah.
Kala merasa orang lain berperilaku tak sesuai ekspektasi, mencela namun tampak memuji, jangan-jangan hati kita yang masih tak lapang dan dikuasai penyakit hati.
Karena sejatinya yang harus paling dicurigai adalah diri kitu sendiri.
Sudahkah curiga bagaimana nasib kita di akhirat nanti?
#selfreminder #maricurigaidiri
Rabu, 02 Mei 2018
Apakah ada yang Salah dalam Pendidikan kita?
Saat ada yang salah dalam sistem pendidikan kita saat ini,
tentu kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Banyak rasanya yang saling
melempar batu menyalahkan satu sama lain, apakah itu menyalahkan sang mentri
pembuat kebijakan, sang presiden pembubuh tanda tangan, orang tua pemberi
asuhan, sang guru pemberi teladan, teknologi yang semakin berkembang, atau sang
anak yang tak dengar ajaran.
Saling menyalahkan tentu bukan solusi. Karena sistem
pendidikan membutuhkan sinergi. Sinergi kita semua, bersama. Dahulu, Ki Hajar
Dewantara membuat Sistem Trisentra Pendidikan. Menyelaraskan antara lingkungan
keluarga, lingkungan guru dan lingkungan masyarakat.
Keluarga memang menjadi peran utama dalam hal pendidikan
dini. Mereka lah yang pertama dilihat saat anak lahir dan semasa balita.
Pepatah arab mengatakan “Al-umm madrasatul uula” bahwa ibu adalah sekolah pertama
bagi anak-anaknya. Tentu hal ini tidak dapat maksimal tanpa persiapan. Seorang
ibu tentu harus memiliki ilmu untuk menjadi sebuah sekolah yang baik. Penanaman
aqidah tauhid sejak dini perlu dimunculkan. Bagaimana tidak, banyaknya
penyimpangan yang terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja masa kini berawal
dari kurangnya pendalaman aqidah yang dimiliki. Seringkali orang tua menyuruh
untuk shalat hanya sebatas kewajiban,
tanpa dijelaskan terlebih dahulu mengapa shalat itu wajib. Tanpa dikenalkan
terlebih dahulu kepada Rabb pemilik alam. Mereka belum kenal namun sudah diberi berbagai kewajiban yang
tak mereka mengerti. Menanamkan akhlak terpuji sejak dini. Tentu ini bukan hanya kewajiban guru ngaji
bukan?
Peran guru tidak kalah penting. Guru, digugu dan
ditiru. Seharusnya menjadi teladan dan
panutan bagi sang anak. Guru adalah orang tua kedua saat mereka tak bertemu
orang tuanya. Memberikan inspirasi tanpa henti. Mendidik tanpa menghardik.
Memberi teladan sebelum ucapan. Memberikan pesan moral berupa panutan. Guru
melanjutkan estafet pendidikan dari orangtua. Memberikan penekanan untuk
menghasilkan pemahaman. Karena pendidikan bukan sebatas mendapat sebuah nilai
ujian memuaskan ataupun ijazah yang idamkan. Nilai moral, akhlak dan ilmu manfaat
yang didapat tentu jauh lebih berharga dari selembar ijazah atau pun sebuah
gelar tambahan.
Peran lingkungan masyarakat kini adalah sebuah tantangan besar. Bagaimana tidak, globalisasi begitu cepat berkembang. Melek teknologi menjadi sebuah keharusan. Akhirnya anak begitu mudah mendapatkan berbagai informasi tidak hanya di lingkungan terdekatnya saja, namun dari seluruh penjuru dunia yang tampil, tentu dengan segala dampak positif dan negatifnya. Tayangan televisi perlahan menghipnotis tindakan anak dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang baik sangat diperlukan, lingkungan yang baik salah satunya dapat didukung dengan sekolah yang mengedepankan akhlak, walau memang diisi banyak peraturan demi terciptanya karakter anak yang baik. Pondok pesantren dapat menjadi salah satu pilihan agar anak mendapat lingkungan yang baik yang sedikit lebih baik daripada pergaulan anak remaja masa kini.
Semoga kita dapat senantiasa bersinergi, menyelamatkan generasi penerus negri yang senantiasa mengedepankan akhlak dan memiliki ilmu yang luas.
Jumat, 08 Desember 2017
Positive Thinking
“Mereka masih kuat kok buat kerja daripada sekedar
minta-minta.” Aku mengawali diskusi dalam sebuah angkot yang hanya berpenumpang
aku dan temanku.
“Hmm...”, temanku hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil
mengernyitkan dahi.
“Pernah dengar tidak, kalau banyak pengemis yang kakinya
patah atau diperban penuh darah padahal pura-pura, ada ibu yang tega memberi
anaknya obat tidur hanya karena supaya saat minta-minta orang lain akan kasihan
pada anaknya, atau pengemis yang ternyata di kampung halamannya dia punya rumah
mewah.” Aku berbicara tanpa berhenti, lalu ku sikut temanku yang dari tadi
hanya mengangguk anggukkan kepala tak jelas.
Senin, 13 November 2017
Nostalgia
Pasca baca buku Nyanyian dalam
Sunyi (buku dapet minjem :D) jadi banyak merenung. Aku berkeyakinan bahwa
kepribadian itu sangat bergantung dari lingkungan. Buku ini memang menceritakan
sisi hidup seorang introver. Dan rasanya aku dibawa nostalgia dengan
kepribadianku dulu. Dulu sungguh aku adalah seorang introver akut. Kuakui
bahkan aku tak punya teman kecil. Waktu kecil rasanya aku memiliki dunia ini
sendiri. Super pemalu dan pendiam. Bayangkan dulu aku tak mau pergi ke sekolah
hanya MALU banyak orang. Aku tak suka keramaian. Ketika teman-teman bermain di
depan rumahku sementara aku hanya mengintipnya dari jendela sedikit demi
sedikit hanya karena tidak ingin diketahui (Aduh drama pisan pokokna). Mereka
bercanda tawa bermain sepeda sedangkan aku hanya ngagegel curuk gak bisa main
sepeda karena tara gaul (dan sampai sekarang gak bisa sepeda). Mamah pun
bergerilya ke teman-temanku supaya senantiasa mengajakku bermain tapi gak
mempan aku tetap selalu gideg tanda tak mau. (Aduh hampura pisan Mah
udah bikin Mamah stress).
Membaca buku ini semakin membawa
aku di masa lalu. Saat akan berbicara pun dipikiran beribu ribu kali. Aku tak mau aku salah langkah saat bicara. Pernah
suatu saat aku mencoba bicara aku merasa pendapatku salah di mata orang lain,
lalu kapikiran sampai berbulan-bulan hanya karena salah ngomong. Seringkali aku
memilih berdiam diri di dalam kamar, saat ada tamu atau keluarga mengunjungi
yang membuat mamah jengkel akan sikapku. Lalu pernah pula suatu saat aku didatangi
guru SD ku ke rumah hanya untuk melaporkan pada Mamah dan Bapak bahwa aku
adalah pemalu akut. “Lebar pinter ge ari isinan mah.” Itulah percakapan inti
mereka waktu itu yang aku intip dari pintu ruangan sebelah. Dan aku tak temui
guru itu hanya karena MALU, padahal udah digusur-gusur Mamah.
Hal itu terus berlangsung sampai
aku kelas 6 SD. Hingga suatu saat aku memutuskan untuk ingin melanjutkan
sekolah yang jauh di rumah. Mamah dan Bapak sampai berkali-kali meyakinkanku tak
yakin dengan kepribadianku yang pemalu akut. Tapi aku bersikukuh ingin sekolah
di tempat jauh yang waktu itu jarak dari rumah bisa sampai 6 jam. Namun takdir
berkata lain, aku jadinya sekolah yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Dan
kami berpisah.
Disanalah aku menemukan
kepribadian baruku. Sedikit demi sedikit kepribadianku berubah. Hingga akhirnya
6 tahun aku tinggal bisa jadi 1500 aku berubah. Gak nyampe 1800
ya karena masih ada sikap ku dulu juga. Lalu di kampus dan ditempat
kerja memaksaku merubah kepribadianku. Bahkan mungkin kepribadianku yang hilang
bisa jadi kembali lagi.
Lalu bagaimana kepribadianku
sekarang. Tanyakan pada teman-temanku saat ini. Kalau dulu pemalu sekarang mah
malu-maluin. Kalau dulu pendiam sekarang mah nyorocos ngomong wae untuk
orang-orang tertentu ya (introver nya masih ada kan). Kalau dulu seneng
sendiri sekarang mah sendiri teh teu paruguh. Kalau dulu banyak diemnya
sekarang mah banyak gak diemnya. Kalau dulu keinget terus kenapa tadi ngomong
sekarang mah inget terus kenapa tadi diem.
Kondisi situasi dan lingkungan
terkadang memaksa kita berbuat hal lain. Aku bersyukur dengan aku yang sekarang.
Juga bersyukur dengan aku yang dulu. Dengan ini aku belajar dan banyak belajar
dari apa yang telah terjadi. Meskipun aku tak punya teman kecil, setidaknya aku
punya banyak teman yang satu persatu mulai pada meninggalkanku karena nikah.
Deuh kenapa jadi kesana ya. Intinya kepribadian itu bisa berubah, jadi bagi
temen-temen yang dikala ada protes dari temannya untuk memperbaiki sikap seneng
banget ngomong : “da aku mah gini atuh orangnya, gak bisa berubah” atau “itu
mah udah karakter aku, jadi susah buat berubah” atau “aku tuh dari dulunya
gitu”. Memang, ada orang yang sudah sangat suka dengan kepribadiannya,
menikmati akan dirinya tapi jika kita bisa lebih baik melihat kondisi untuk
bisa menyesuaikan, kenapa tidak berubah menyesuaikan diri. Bukan untuk menjadi
bunglon atau bermuka dua hanya karena ingin selalu membahagiakan orang lain.
Firman Allah dalam Ar-Rad ayat 11:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan jiwa-jiwa mereka sendiri.”
So, Jika kita mengubah diri kita,
pasti Allah akan mengubah keadaan kita.
Bukan kita sendiri ya menentukan, karena tetap ada peran Allah. Do the
best and Allah will give the best for us.
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri yang Diunggulkan
PTS Matematika
Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf
Popular Posts
-
Introduction Actually, mathematics is the science that related to all fields of science such us physics , chemistry , biology...
-
Seringkali kita keliru apa sih itu statistik atau Statistika. Nah, mau berbagi nih, Apa sih perbedaan antara keduanya? Sebelum mempelajarin...
-
Pasca baca buku Nyanyian dalam Sunyi (buku dapet minjem :D) jadi banyak merenung. Aku berkeyakinan bahwa kepribadian itu sangat berg...
