Kamis, 09 Juli 2020

Belajar Statistika

Seringkali kita keliru apa sih itu statistik atau Statistika. Nah, mau berbagi nih, Apa sih perbedaan antara keduanya? Sebelum mempelajarinya kita harus tau dulu dong apa yang sedang kita pelajari. Statistik sendiri yaitu berupa data yang kita olah yang kemudian disajikan dalam bentuk data ringkas. Adapun Statistika adalah ilmu yang mempelajari Statistik, yang berisi aksi kita dalam Mengumpulkan data, mengolah, menyajikan, menganalisis dan menyimpulkan data.

Senin, 11 Maret 2019

Curiga

Dulu ketika awal belajar bahasa Arab,  aku seringkali mencoba mengartikan do'a-do'a yang diberikan bapak dalam bahasa Arab saat kecil. Karena aku merasa seringkali kita membaca do'a namun hampa makna.⁣⁣
⁣⁣
Saat itu aku tertegun dan bertanya-tanya akan arti suatu do'a.⁣⁣
⁣⁣
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.⁣⁣
⁣⁣
Do'a itu kubaca berulang-ulang lalu kucoba artikan berulang. Saat itu aku takut jangan-jangan selama ini aku salah berdo'a, jangan-jangan ada lafal yang terlewat yang seharusnya aku baca.  Ada dahi yang mengkerut saat itu, bagaimana mungkin kita mengakui bahwa kita orang dzalim. Do'a  yang yang sering kuucapkan itu yang baru kuketahui itu adalah do'a Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan Paus membuat aku bertanya-tanya dalam hati.⁣⁣
⁣⁣
Lalu aku kembali menemukan hal yang sama pada do'a lainnya :⁣⁣
⁣⁣
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.⁣⁣
⁣⁣
Doa ini juga doa yang diucapkan Nabi Adam saat turun ke bumi. Saat itu penasaranku tak terbendung. Lalu kutanya salah seorang guru.⁣⁣
⁣⁣
Tak ada yang terlewat dalam do'a itu. Itu adalah do'a sebagai sebuah pengakuan akan dosa yang telah dilakukan katanya. Hingga akhirnya aku dimengertikan bahwa sejatinya kita adalah pribadi yang mencurigakan. Jika para nabi saja langsung mengakui dan mencurigai dirinya sendiri bagaimana dengan kita yang bukan nabi?⁣⁣
⁣⁣
Kala merasa do'a tak kunjung diijabah, kemudian hati menjadi resah tak berarah, jangan-jangan ada hati yang masih belum pulih yang masih melirih akibat kita membuatnya sedih.⁣⁣
⁣⁣
Kala masalah begitu banyak, ujian terasa tak berhenti menggertak, jangan-jangan masih ada dosa-dosa kita yang menyumbat rahmat-Nya sehingga hidup terasa sesak.⁣⁣
⁣⁣
Kala hati terasa gerah, hidup merasa tak terarah, jangan-jangan hati kita masih hampa dari dzikrullah.⁣⁣
⁣⁣
Kala merasa orang lain berperilaku tak sesuai ekspektasi, mencela namun tampak memuji, jangan-jangan hati kita yang masih tak lapang dan dikuasai penyakit hati.⁣⁣
⁣⁣
Karena sejatinya yang harus paling dicurigai adalah diri kitu sendiri.⁣⁣
⁣⁣
Sudahkah curiga bagaimana nasib kita di akhirat nanti?⁣⁣
⁣⁣
#selfreminder #maricurigaidiri⁣⁣
⁣⁣

Rabu, 02 Mei 2018

Apakah ada yang Salah dalam Pendidikan kita?

Saat ada yang salah dalam sistem pendidikan kita saat ini, tentu kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Banyak rasanya yang saling melempar batu menyalahkan satu sama lain, apakah itu menyalahkan sang mentri pembuat kebijakan, sang presiden pembubuh tanda tangan, orang tua pemberi asuhan, sang guru pemberi teladan, teknologi yang semakin berkembang, atau sang anak yang tak dengar ajaran. 

Saling menyalahkan tentu bukan solusi. Karena sistem pendidikan membutuhkan sinergi. Sinergi kita semua, bersama. Dahulu, Ki Hajar Dewantara membuat Sistem Trisentra Pendidikan. Menyelaraskan antara lingkungan keluarga, lingkungan guru dan lingkungan masyarakat.
Keluarga memang menjadi peran utama dalam hal pendidikan dini. Mereka lah yang pertama dilihat saat anak lahir dan semasa balita. Pepatah arab mengatakan “Al-umm madrasatul uula” bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tentu hal ini tidak dapat maksimal tanpa persiapan. Seorang ibu tentu harus memiliki ilmu untuk menjadi sebuah sekolah yang baik. Penanaman aqidah tauhid sejak dini perlu dimunculkan. Bagaimana tidak, banyaknya penyimpangan yang terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja masa kini berawal dari kurangnya pendalaman aqidah yang dimiliki. Seringkali orang tua menyuruh untuk shalat  hanya sebatas kewajiban, tanpa dijelaskan terlebih dahulu mengapa shalat itu wajib. Tanpa dikenalkan terlebih dahulu kepada Rabb pemilik alam. Mereka belum kenal  namun sudah diberi berbagai kewajiban yang tak mereka mengerti. Menanamkan akhlak terpuji sejak dini.  Tentu ini bukan hanya kewajiban guru ngaji bukan?

Peran guru tidak kalah penting. Guru, digugu dan ditiru.  Seharusnya menjadi teladan dan panutan bagi sang anak. Guru adalah orang tua kedua saat mereka tak bertemu orang tuanya. Memberikan inspirasi tanpa henti. Mendidik tanpa menghardik. Memberi teladan sebelum ucapan. Memberikan pesan moral berupa panutan. Guru melanjutkan estafet pendidikan dari orangtua. Memberikan penekanan untuk menghasilkan pemahaman. Karena pendidikan bukan sebatas mendapat sebuah nilai ujian memuaskan ataupun ijazah yang idamkan. Nilai moral, akhlak dan ilmu manfaat yang didapat tentu jauh lebih berharga dari selembar ijazah atau pun sebuah gelar tambahan.

Peran lingkungan masyarakat kini adalah sebuah tantangan besar. Bagaimana tidak, globalisasi begitu cepat berkembang. Melek teknologi menjadi sebuah keharusan. Akhirnya anak begitu mudah mendapatkan berbagai informasi tidak hanya di lingkungan terdekatnya saja, namun dari seluruh penjuru dunia yang tampil, tentu dengan segala dampak positif dan negatifnya. Tayangan televisi perlahan menghipnotis  tindakan anak dalam kehidupan sehari-hari.  Lingkungan yang baik sangat diperlukan, lingkungan yang baik salah satunya dapat didukung dengan sekolah yang mengedepankan akhlak, walau memang diisi banyak peraturan demi terciptanya karakter anak yang baik.  Pondok pesantren dapat menjadi  salah satu pilihan agar anak mendapat lingkungan yang baik yang sedikit lebih baik daripada pergaulan anak remaja masa kini.

Semoga kita dapat senantiasa bersinergi, menyelamatkan generasi penerus negri yang senantiasa mengedepankan akhlak dan memiliki ilmu yang luas.

Jumat, 08 Desember 2017

Positive Thinking



“Mereka masih kuat kok buat kerja daripada sekedar minta-minta.” Aku mengawali diskusi dalam sebuah angkot yang hanya berpenumpang aku dan temanku.

“Hmm...”, temanku hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil mengernyitkan dahi.

“Pernah dengar tidak, kalau banyak pengemis yang kakinya patah atau diperban penuh darah padahal pura-pura, ada ibu yang tega memberi anaknya obat tidur hanya karena supaya saat minta-minta orang lain akan kasihan pada anaknya, atau pengemis yang ternyata di kampung halamannya dia punya rumah mewah.” Aku berbicara tanpa berhenti, lalu ku sikut temanku yang dari tadi hanya mengangguk anggukkan kepala tak jelas.

Senin, 13 November 2017

Nostalgia



Pasca baca buku Nyanyian dalam Sunyi (buku dapet minjem :D) jadi banyak merenung. Aku berkeyakinan bahwa kepribadian itu sangat bergantung dari lingkungan. Buku ini memang menceritakan sisi hidup seorang introver. Dan rasanya aku dibawa nostalgia dengan kepribadianku dulu. Dulu sungguh aku adalah seorang introver akut. Kuakui bahkan aku tak punya teman kecil. Waktu kecil rasanya aku memiliki dunia ini sendiri. Super pemalu dan pendiam. Bayangkan dulu aku tak mau pergi ke sekolah hanya MALU banyak orang. Aku tak suka keramaian. Ketika teman-teman bermain di depan rumahku sementara aku hanya mengintipnya dari jendela sedikit demi sedikit hanya karena tidak ingin diketahui (Aduh drama pisan pokokna). Mereka bercanda tawa bermain sepeda sedangkan aku hanya ngagegel curuk gak bisa main sepeda karena tara gaul (dan sampai sekarang gak bisa sepeda). Mamah pun bergerilya ke teman-temanku supaya senantiasa mengajakku bermain tapi gak mempan aku tetap selalu gideg tanda tak mau. (Aduh hampura pisan Mah udah bikin Mamah stress).
Membaca buku ini semakin membawa aku di masa lalu. Saat akan berbicara pun dipikiran beribu ribu kali.  Aku tak mau aku salah langkah saat bicara. Pernah suatu saat aku mencoba bicara aku merasa pendapatku salah di mata orang lain, lalu kapikiran sampai berbulan-bulan hanya karena salah ngomong. Seringkali aku memilih berdiam diri di dalam kamar, saat ada tamu atau keluarga mengunjungi yang membuat mamah jengkel akan sikapku. Lalu pernah pula suatu saat aku didatangi guru SD ku ke rumah hanya untuk melaporkan pada Mamah dan Bapak bahwa aku adalah pemalu akut. “Lebar pinter ge ari isinan mah.” Itulah percakapan inti mereka waktu itu yang aku intip dari pintu ruangan sebelah. Dan aku tak temui guru itu hanya karena MALU, padahal udah digusur-gusur Mamah.
Hal itu terus berlangsung sampai aku kelas 6 SD. Hingga suatu saat aku memutuskan untuk ingin melanjutkan sekolah yang jauh di rumah. Mamah dan Bapak sampai berkali-kali meyakinkanku tak yakin dengan kepribadianku yang pemalu akut. Tapi aku bersikukuh ingin sekolah di tempat jauh yang waktu itu jarak dari rumah bisa sampai 6 jam. Namun takdir berkata lain, aku jadinya sekolah yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Dan kami berpisah.
Disanalah aku menemukan kepribadian baruku. Sedikit demi sedikit kepribadianku berubah. Hingga akhirnya 6 tahun aku tinggal bisa jadi 1500 aku berubah. Gak nyampe 1800 ya karena masih ada sikap ku dulu juga. Lalu di kampus dan ditempat kerja memaksaku merubah kepribadianku. Bahkan mungkin kepribadianku yang hilang bisa jadi kembali lagi.
Lalu bagaimana kepribadianku sekarang. Tanyakan pada teman-temanku saat ini. Kalau dulu pemalu sekarang mah malu-maluin. Kalau dulu pendiam sekarang mah nyorocos ngomong wae untuk orang-orang tertentu ya (introver nya masih ada kan). Kalau dulu seneng sendiri sekarang mah sendiri teh teu paruguh. Kalau dulu banyak diemnya sekarang mah banyak gak diemnya. Kalau dulu keinget terus kenapa tadi ngomong sekarang mah inget terus kenapa tadi diem.
Kondisi situasi dan lingkungan terkadang memaksa kita berbuat hal lain. Aku bersyukur dengan aku yang sekarang. Juga bersyukur dengan aku yang dulu. Dengan ini aku belajar dan banyak belajar dari apa yang telah terjadi. Meskipun aku tak punya teman kecil, setidaknya aku punya banyak teman yang satu persatu mulai pada meninggalkanku karena nikah. Deuh kenapa jadi kesana ya. Intinya kepribadian itu bisa berubah, jadi bagi temen-temen yang dikala ada protes dari temannya untuk memperbaiki sikap seneng banget ngomong : “da aku mah gini atuh orangnya, gak bisa berubah” atau “itu mah udah karakter aku, jadi susah buat berubah” atau “aku tuh dari dulunya gitu”. Memang, ada orang yang sudah sangat suka dengan kepribadiannya, menikmati akan dirinya tapi jika kita bisa lebih baik melihat kondisi untuk bisa menyesuaikan, kenapa tidak berubah menyesuaikan diri. Bukan untuk menjadi bunglon atau bermuka dua hanya karena ingin selalu membahagiakan orang lain. Firman Allah dalam Ar-Rad ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan jiwa-jiwa mereka sendiri.”
So, Jika kita mengubah diri kita, pasti Allah akan mengubah keadaan kita.  Bukan kita sendiri ya menentukan, karena tetap ada peran Allah. Do the best and Allah will give the best for us.

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts