Saat ada yang salah dalam sistem pendidikan kita saat ini,
tentu kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Banyak rasanya yang saling
melempar batu menyalahkan satu sama lain, apakah itu menyalahkan sang mentri
pembuat kebijakan, sang presiden pembubuh tanda tangan, orang tua pemberi
asuhan, sang guru pemberi teladan, teknologi yang semakin berkembang, atau sang
anak yang tak dengar ajaran.
Saling menyalahkan tentu bukan solusi. Karena sistem
pendidikan membutuhkan sinergi. Sinergi kita semua, bersama. Dahulu, Ki Hajar
Dewantara membuat Sistem Trisentra Pendidikan. Menyelaraskan antara lingkungan
keluarga, lingkungan guru dan lingkungan masyarakat.
Keluarga memang menjadi peran utama dalam hal pendidikan
dini. Mereka lah yang pertama dilihat saat anak lahir dan semasa balita.
Pepatah arab mengatakan “Al-umm madrasatul uula” bahwa ibu adalah sekolah pertama
bagi anak-anaknya. Tentu hal ini tidak dapat maksimal tanpa persiapan. Seorang
ibu tentu harus memiliki ilmu untuk menjadi sebuah sekolah yang baik. Penanaman
aqidah tauhid sejak dini perlu dimunculkan. Bagaimana tidak, banyaknya
penyimpangan yang terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja masa kini berawal
dari kurangnya pendalaman aqidah yang dimiliki. Seringkali orang tua menyuruh
untuk shalat hanya sebatas kewajiban,
tanpa dijelaskan terlebih dahulu mengapa shalat itu wajib. Tanpa dikenalkan
terlebih dahulu kepada Rabb pemilik alam. Mereka belum kenal namun sudah diberi berbagai kewajiban yang
tak mereka mengerti. Menanamkan akhlak terpuji sejak dini. Tentu ini bukan hanya kewajiban guru ngaji
bukan?
Peran guru tidak kalah penting. Guru, digugu dan
ditiru. Seharusnya menjadi teladan dan
panutan bagi sang anak. Guru adalah orang tua kedua saat mereka tak bertemu
orang tuanya. Memberikan inspirasi tanpa henti. Mendidik tanpa menghardik.
Memberi teladan sebelum ucapan. Memberikan pesan moral berupa panutan. Guru
melanjutkan estafet pendidikan dari orangtua. Memberikan penekanan untuk
menghasilkan pemahaman. Karena pendidikan bukan sebatas mendapat sebuah nilai
ujian memuaskan ataupun ijazah yang idamkan. Nilai moral, akhlak dan ilmu manfaat
yang didapat tentu jauh lebih berharga dari selembar ijazah atau pun sebuah
gelar tambahan.
Peran lingkungan masyarakat kini adalah sebuah tantangan besar. Bagaimana tidak, globalisasi begitu cepat berkembang. Melek teknologi menjadi sebuah keharusan. Akhirnya anak begitu mudah mendapatkan berbagai informasi tidak hanya di lingkungan terdekatnya saja, namun dari seluruh penjuru dunia yang tampil, tentu dengan segala dampak positif dan negatifnya. Tayangan televisi perlahan menghipnotis tindakan anak dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang baik sangat diperlukan, lingkungan yang baik salah satunya dapat didukung dengan sekolah yang mengedepankan akhlak, walau memang diisi banyak peraturan demi terciptanya karakter anak yang baik. Pondok pesantren dapat menjadi salah satu pilihan agar anak mendapat lingkungan yang baik yang sedikit lebih baik daripada pergaulan anak remaja masa kini.
Semoga kita dapat senantiasa bersinergi, menyelamatkan generasi penerus negri yang senantiasa mengedepankan akhlak dan memiliki ilmu yang luas.
Terimakasih Ki Hajar Dewantara. Namamu dikenang untuk Taman
Siswa.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar