“Mereka masih kuat kok buat kerja daripada sekedar
minta-minta.” Aku mengawali diskusi dalam sebuah angkot yang hanya berpenumpang
aku dan temanku.
“Hmm...”, temanku hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil
mengernyitkan dahi.
“Pernah dengar tidak, kalau banyak pengemis yang kakinya
patah atau diperban penuh darah padahal pura-pura, ada ibu yang tega memberi
anaknya obat tidur hanya karena supaya saat minta-minta orang lain akan kasihan
pada anaknya, atau pengemis yang ternyata di kampung halamannya dia punya rumah
mewah.” Aku berbicara tanpa berhenti, lalu ku sikut temanku yang dari tadi
hanya mengangguk anggukkan kepala tak jelas.
“Respon atuh ih.” Gerutuku kesal.
“Lalu kamu pikir ibu dan bapak itu juga sama?” Temanku malah
bertanya menunjuk seorang ibu yang memapah seorang bapak yang tampak tidak bisa
melihat meminta-minta di pinggir jalan.
Aku menolehkan kepalaku pada sang ibu dan bapak sampai
akhirnya mereka tak terlihat kare
na mobil angkot terus melaju.
“Kita tak tahu bukan, saat bapak yang kamu ceritakan tadi punya
mobil mewah di rumahnya bukan berarti berlaku juga buat ibu dan bapak itu juga kan?”
Giliranku ku kini yang mengangguk-angguk tanda setuju.
“Sungguh, kita tak tahu hati orang lain bukan. Tugas kita
bukan menghakimi. Jika kita ingin memberi maka berilah sebagian harta kita
dengan ikhlas. Jika tidak, tidak perlu kita bumbui dengan suudzon tak berarti
yang membuat kita merasa lebih baik dari mereka. Tugas kita bukan itu. Kalaupun
ternyata dugaanmu tadi benar, itu bukan urusan kita bukan? Itu sudah menjadi
dosa tanggungannya.”
“Hehe, iya ya..
maafkan temanmu ini yang pikirannya masih negatif mulu deuh.” Imbasku nyengir.
Aku menatap temanku. Terharu. Alhamdulillah aku masih
memiliki teman yang selalu berpikir positif. Karena seringkali kita lupa.
Senantiasa sibuk menilai orang lain. Merasa diri ini lebih baik dari mereka.
Sibuk, menerka ini itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar