Pasca baca buku Nyanyian dalam
Sunyi (buku dapet minjem :D) jadi banyak merenung. Aku berkeyakinan bahwa
kepribadian itu sangat bergantung dari lingkungan. Buku ini memang menceritakan
sisi hidup seorang introver. Dan rasanya aku dibawa nostalgia dengan
kepribadianku dulu. Dulu sungguh aku adalah seorang introver akut. Kuakui
bahkan aku tak punya teman kecil. Waktu kecil rasanya aku memiliki dunia ini
sendiri. Super pemalu dan pendiam. Bayangkan dulu aku tak mau pergi ke sekolah
hanya MALU banyak orang. Aku tak suka keramaian. Ketika teman-teman bermain di
depan rumahku sementara aku hanya mengintipnya dari jendela sedikit demi
sedikit hanya karena tidak ingin diketahui (Aduh drama pisan pokokna). Mereka
bercanda tawa bermain sepeda sedangkan aku hanya ngagegel curuk gak bisa main
sepeda karena tara gaul (dan sampai sekarang gak bisa sepeda). Mamah pun
bergerilya ke teman-temanku supaya senantiasa mengajakku bermain tapi gak
mempan aku tetap selalu gideg tanda tak mau. (Aduh hampura pisan Mah
udah bikin Mamah stress).
Membaca buku ini semakin membawa
aku di masa lalu. Saat akan berbicara pun dipikiran beribu ribu kali. Aku tak mau aku salah langkah saat bicara. Pernah
suatu saat aku mencoba bicara aku merasa pendapatku salah di mata orang lain,
lalu kapikiran sampai berbulan-bulan hanya karena salah ngomong. Seringkali aku
memilih berdiam diri di dalam kamar, saat ada tamu atau keluarga mengunjungi
yang membuat mamah jengkel akan sikapku. Lalu pernah pula suatu saat aku didatangi
guru SD ku ke rumah hanya untuk melaporkan pada Mamah dan Bapak bahwa aku
adalah pemalu akut. “Lebar pinter ge ari isinan mah.” Itulah percakapan inti
mereka waktu itu yang aku intip dari pintu ruangan sebelah. Dan aku tak temui
guru itu hanya karena MALU, padahal udah digusur-gusur Mamah.
Hal itu terus berlangsung sampai
aku kelas 6 SD. Hingga suatu saat aku memutuskan untuk ingin melanjutkan
sekolah yang jauh di rumah. Mamah dan Bapak sampai berkali-kali meyakinkanku tak
yakin dengan kepribadianku yang pemalu akut. Tapi aku bersikukuh ingin sekolah
di tempat jauh yang waktu itu jarak dari rumah bisa sampai 6 jam. Namun takdir
berkata lain, aku jadinya sekolah yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Dan
kami berpisah.
Disanalah aku menemukan
kepribadian baruku. Sedikit demi sedikit kepribadianku berubah. Hingga akhirnya
6 tahun aku tinggal bisa jadi 1500 aku berubah. Gak nyampe 1800
ya karena masih ada sikap ku dulu juga. Lalu di kampus dan ditempat
kerja memaksaku merubah kepribadianku. Bahkan mungkin kepribadianku yang hilang
bisa jadi kembali lagi.
Lalu bagaimana kepribadianku
sekarang. Tanyakan pada teman-temanku saat ini. Kalau dulu pemalu sekarang mah
malu-maluin. Kalau dulu pendiam sekarang mah nyorocos ngomong wae untuk
orang-orang tertentu ya (introver nya masih ada kan). Kalau dulu seneng
sendiri sekarang mah sendiri teh teu paruguh. Kalau dulu banyak diemnya
sekarang mah banyak gak diemnya. Kalau dulu keinget terus kenapa tadi ngomong
sekarang mah inget terus kenapa tadi diem.
Kondisi situasi dan lingkungan
terkadang memaksa kita berbuat hal lain. Aku bersyukur dengan aku yang sekarang.
Juga bersyukur dengan aku yang dulu. Dengan ini aku belajar dan banyak belajar
dari apa yang telah terjadi. Meskipun aku tak punya teman kecil, setidaknya aku
punya banyak teman yang satu persatu mulai pada meninggalkanku karena nikah.
Deuh kenapa jadi kesana ya. Intinya kepribadian itu bisa berubah, jadi bagi
temen-temen yang dikala ada protes dari temannya untuk memperbaiki sikap seneng
banget ngomong : “da aku mah gini atuh orangnya, gak bisa berubah” atau “itu
mah udah karakter aku, jadi susah buat berubah” atau “aku tuh dari dulunya
gitu”. Memang, ada orang yang sudah sangat suka dengan kepribadiannya,
menikmati akan dirinya tapi jika kita bisa lebih baik melihat kondisi untuk
bisa menyesuaikan, kenapa tidak berubah menyesuaikan diri. Bukan untuk menjadi
bunglon atau bermuka dua hanya karena ingin selalu membahagiakan orang lain.
Firman Allah dalam Ar-Rad ayat 11:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan jiwa-jiwa mereka sendiri.”
So, Jika kita mengubah diri kita,
pasti Allah akan mengubah keadaan kita.
Bukan kita sendiri ya menentukan, karena tetap ada peran Allah. Do the
best and Allah will give the best for us.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar