Senin, 13 November 2017

Nostalgia



Pasca baca buku Nyanyian dalam Sunyi (buku dapet minjem :D) jadi banyak merenung. Aku berkeyakinan bahwa kepribadian itu sangat bergantung dari lingkungan. Buku ini memang menceritakan sisi hidup seorang introver. Dan rasanya aku dibawa nostalgia dengan kepribadianku dulu. Dulu sungguh aku adalah seorang introver akut. Kuakui bahkan aku tak punya teman kecil. Waktu kecil rasanya aku memiliki dunia ini sendiri. Super pemalu dan pendiam. Bayangkan dulu aku tak mau pergi ke sekolah hanya MALU banyak orang. Aku tak suka keramaian. Ketika teman-teman bermain di depan rumahku sementara aku hanya mengintipnya dari jendela sedikit demi sedikit hanya karena tidak ingin diketahui (Aduh drama pisan pokokna). Mereka bercanda tawa bermain sepeda sedangkan aku hanya ngagegel curuk gak bisa main sepeda karena tara gaul (dan sampai sekarang gak bisa sepeda). Mamah pun bergerilya ke teman-temanku supaya senantiasa mengajakku bermain tapi gak mempan aku tetap selalu gideg tanda tak mau. (Aduh hampura pisan Mah udah bikin Mamah stress).
Membaca buku ini semakin membawa aku di masa lalu. Saat akan berbicara pun dipikiran beribu ribu kali.  Aku tak mau aku salah langkah saat bicara. Pernah suatu saat aku mencoba bicara aku merasa pendapatku salah di mata orang lain, lalu kapikiran sampai berbulan-bulan hanya karena salah ngomong. Seringkali aku memilih berdiam diri di dalam kamar, saat ada tamu atau keluarga mengunjungi yang membuat mamah jengkel akan sikapku. Lalu pernah pula suatu saat aku didatangi guru SD ku ke rumah hanya untuk melaporkan pada Mamah dan Bapak bahwa aku adalah pemalu akut. “Lebar pinter ge ari isinan mah.” Itulah percakapan inti mereka waktu itu yang aku intip dari pintu ruangan sebelah. Dan aku tak temui guru itu hanya karena MALU, padahal udah digusur-gusur Mamah.
Hal itu terus berlangsung sampai aku kelas 6 SD. Hingga suatu saat aku memutuskan untuk ingin melanjutkan sekolah yang jauh di rumah. Mamah dan Bapak sampai berkali-kali meyakinkanku tak yakin dengan kepribadianku yang pemalu akut. Tapi aku bersikukuh ingin sekolah di tempat jauh yang waktu itu jarak dari rumah bisa sampai 6 jam. Namun takdir berkata lain, aku jadinya sekolah yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Dan kami berpisah.
Disanalah aku menemukan kepribadian baruku. Sedikit demi sedikit kepribadianku berubah. Hingga akhirnya 6 tahun aku tinggal bisa jadi 1500 aku berubah. Gak nyampe 1800 ya karena masih ada sikap ku dulu juga. Lalu di kampus dan ditempat kerja memaksaku merubah kepribadianku. Bahkan mungkin kepribadianku yang hilang bisa jadi kembali lagi.
Lalu bagaimana kepribadianku sekarang. Tanyakan pada teman-temanku saat ini. Kalau dulu pemalu sekarang mah malu-maluin. Kalau dulu pendiam sekarang mah nyorocos ngomong wae untuk orang-orang tertentu ya (introver nya masih ada kan). Kalau dulu seneng sendiri sekarang mah sendiri teh teu paruguh. Kalau dulu banyak diemnya sekarang mah banyak gak diemnya. Kalau dulu keinget terus kenapa tadi ngomong sekarang mah inget terus kenapa tadi diem.
Kondisi situasi dan lingkungan terkadang memaksa kita berbuat hal lain. Aku bersyukur dengan aku yang sekarang. Juga bersyukur dengan aku yang dulu. Dengan ini aku belajar dan banyak belajar dari apa yang telah terjadi. Meskipun aku tak punya teman kecil, setidaknya aku punya banyak teman yang satu persatu mulai pada meninggalkanku karena nikah. Deuh kenapa jadi kesana ya. Intinya kepribadian itu bisa berubah, jadi bagi temen-temen yang dikala ada protes dari temannya untuk memperbaiki sikap seneng banget ngomong : “da aku mah gini atuh orangnya, gak bisa berubah” atau “itu mah udah karakter aku, jadi susah buat berubah” atau “aku tuh dari dulunya gitu”. Memang, ada orang yang sudah sangat suka dengan kepribadiannya, menikmati akan dirinya tapi jika kita bisa lebih baik melihat kondisi untuk bisa menyesuaikan, kenapa tidak berubah menyesuaikan diri. Bukan untuk menjadi bunglon atau bermuka dua hanya karena ingin selalu membahagiakan orang lain. Firman Allah dalam Ar-Rad ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan jiwa-jiwa mereka sendiri.”
So, Jika kita mengubah diri kita, pasti Allah akan mengubah keadaan kita.  Bukan kita sendiri ya menentukan, karena tetap ada peran Allah. Do the best and Allah will give the best for us.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts