Rabu, 26 Juli 2017

Selamat jalan Mah...

Hakikatnya kita milikNya dan pasti akan kembali padaNya. Entah itu kapan, tak ada yang tahu. Namun tak pernah kusangka akan secepat ini.
 Untuk cerita selama seminggu terakhir aku berada disisinya. Mengukir asa "nanti kalau Mamah sembuh". Selalu meyakinkannya bahwa bisa sembuh dari sakitnya. Senantiasa berbagi kisah bahagia.  Aku selalu meyakinkannya menanti kesembuhan Mamah yang selama ini selalu kuat. Tak jarang beliau selalu bertanya semua aktifitasku. Bertanya kabar semua anak-anaknya. Bertanya akan kabar cucu-cucunya. Mengukir asa untukku, selalu menyemangatiku untuk selalu melanjutkan sekolahku.
Walau kadang timbul rasa pesimis darinya. Seringkali bertanya "Mamah iraha damang? Ataupun menjawab singkat "hoyong damang." saat kutanya "Hoyong naon atuh Mah?" padahal saat itu aku menawarkan makanan yang akan dimakannya. Aku dan Mamah selalu yakin Mamah akan sembuh. Entah berapa kali kata maaf yang diucapkannya dalam sehari. "Punten nya, Mamah teh ngarepotkeun wae."  Dan setiap kali kata itu terucap darinya air mataku tak bisa terbendung. Bahkan pelayananku saat kau sakit sangat jauh tak lebih baik dari pelayananmu padaku Mah selama ini. Kadang terbesit kesal saat ku merawatmu yang bahkan tak pernah kau rasakan saat kau merawatku. Ah, anak macam apa aku ini Mah. Kata maaf pun tak pernah luput ia katakan saat bertemu orang yang menjenguknya. Dia menangis meminta maaf kepada semua orang.
Di saat-saat terakhirnya aku masih berkeyakinan bahwa Mamah akan sadar kembali. Namun Allah berkehendak lain. Di akhir Ramadhan ini Allah panggil Mamah untuk kembali padaNya. Idul fitri ini dirasakan begitu berbeda. Rupanya Allah lebih sayang Mamah, tak mau membuatnya kesakitan lebih lama. Mungkin Allah rindu padanya dan mungkin disisiNya akan lebih indah. 
            Ada penyesalan. Begitu banyak asanya terhadapku yang belum kupenuhi. Begitu banyak pelayananku yang buruk padanya. Begitu baktiku masih sedikit padanya. Aku belum membuatnya bahagia.
            Ada kerinduan. Begitu kepeduliannya padaku begitu besar. Takkan ada lagi pelukannya yang hangat. Takkan ada lagi suaranya menelponku setiap pagi hanya untuk bertanya kabar dan saling berbagi cerita aktifitas kita selama sehari kemarin. Takkan ada lagi suaranya menyemangatiku untuk setiap pagi, bertanya capaianku, progressku, mengukir asa, meyakinkanku akan mimpi-mimpiku. Takkan ada lagi cerewetnya, mengingatkanku sekedar makan teratur dan segera mencari pasangan hidup. 
Namun pada akhirnya semua tak bisa hanya terus kusesali. Kullu nafsin dzaiqotul mauut. Selamat jalan Mah. Semoga husnul khatimah. Begitu banyak orang yang kehilanganmu. Begitu banyak orang yang mendoakanmu. Begitu banyak kebaikanmu yang baru aku ketahui kini. Dan semua itu membuatku yakin, Mamah akan bahagia di alam sana. Kini aku hanya dapat berdoa. Semoga kita dapat bersua lagi nanti. Di surga-Nya. Aamiin. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts