Hakikatnya kita milikNya dan
pasti akan kembali padaNya. Entah itu kapan, tak ada yang tahu. Namun tak
pernah kusangka akan secepat ini.
Untuk cerita selama
seminggu terakhir aku berada disisinya. Mengukir asa "nanti kalau Mamah
sembuh". Selalu meyakinkannya bahwa bisa sembuh dari sakitnya. Senantiasa
berbagi kisah bahagia. Aku selalu meyakinkannya menanti kesembuhan Mamah
yang selama ini selalu kuat. Tak jarang beliau selalu bertanya semua
aktifitasku. Bertanya kabar semua anak-anaknya. Bertanya akan kabar
cucu-cucunya. Mengukir asa untukku, selalu menyemangatiku untuk selalu
melanjutkan sekolahku.
Walau kadang timbul rasa
pesimis darinya. Seringkali bertanya "Mamah iraha damang? Ataupun menjawab
singkat "hoyong damang." saat kutanya "Hoyong naon atuh
Mah?" padahal saat itu aku menawarkan makanan yang akan dimakannya. Aku dan
Mamah selalu yakin Mamah akan sembuh. Entah berapa kali kata maaf yang
diucapkannya dalam sehari. "Punten nya, Mamah teh ngarepotkeun
wae." Dan setiap kali kata itu terucap darinya air mataku tak bisa
terbendung. Bahkan pelayananku saat kau sakit sangat jauh tak lebih baik dari pelayananmu
padaku Mah selama ini. Kadang terbesit kesal saat ku merawatmu yang bahkan tak
pernah kau rasakan saat kau merawatku. Ah, anak macam apa aku ini Mah. Kata
maaf pun tak pernah luput ia katakan saat bertemu orang yang menjenguknya. Dia
menangis meminta maaf kepada semua orang.
Di saat-saat terakhirnya aku
masih berkeyakinan bahwa Mamah akan sadar kembali. Namun Allah berkehendak
lain. Di akhir Ramadhan ini Allah panggil Mamah untuk kembali padaNya. Idul
fitri ini dirasakan begitu berbeda. Rupanya Allah lebih sayang Mamah, tak mau
membuatnya kesakitan lebih lama. Mungkin Allah rindu padanya dan mungkin
disisiNya akan lebih indah.
Ada
penyesalan. Begitu banyak asanya terhadapku yang belum kupenuhi. Begitu banyak
pelayananku yang buruk padanya. Begitu baktiku masih sedikit padanya. Aku belum
membuatnya bahagia.
Ada
kerinduan. Begitu kepeduliannya padaku begitu besar. Takkan ada lagi pelukannya
yang hangat. Takkan ada lagi suaranya menelponku setiap pagi hanya untuk
bertanya kabar dan saling berbagi cerita aktifitas kita selama sehari kemarin.
Takkan ada lagi suaranya menyemangatiku untuk setiap pagi, bertanya capaianku,
progressku, mengukir asa, meyakinkanku akan mimpi-mimpiku. Takkan ada lagi
cerewetnya, mengingatkanku sekedar makan teratur dan segera mencari pasangan
hidup.
Namun pada akhirnya semua tak
bisa hanya terus kusesali. Kullu nafsin dzaiqotul mauut. Selamat jalan Mah.
Semoga husnul khatimah. Begitu banyak orang yang kehilanganmu. Begitu banyak
orang yang mendoakanmu. Begitu banyak kebaikanmu yang baru aku ketahui kini.
Dan semua itu membuatku yakin, Mamah akan bahagia di alam sana. Kini aku hanya
dapat berdoa. Semoga kita dapat bersua lagi nanti. Di surga-Nya. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar