'Ngaret', yupz kata ini sepertinya telah familiar
di telinga orang Indonesia. Mungkin kata ini 'ngaret' diambil dari kata dasar
karet yaitu sebuah benda yang sifatnya elastis (yaitu bisa memanjang jika
ditarik). Sehingga waktu yang bersifat pasti ini disifati karet yang dapat
memanjang dan memendek. Entah siapa yang memulai dan entah dari kapan kata
'ngaret' ini digunakan.
Lalu bagaimana bisa kata 'ngaret' ini begitu
populer di Indonesia? Begitu tidak disiplinkah kita sehingga 'ngaret menjadi
sebuah budaya? Hmm, sepertinya 'ngaret' ini telah dijadikan sebuah hal yang
biasa bagi kita. Gawat sekali -_-.
Nah, dan yang jadi masalah ketika 'ngaret'
menjadi sebuah estimasi. Bagaimana bisa kita menghilangkan 'budaya ngaret' ini
sedangkan ngaret selalu menjadi estimasi suatu acara. Seringkali suatu kegiatan
yang saya ikuti selalu mengestimasikan ‘ngaret’. Bukankah itu justru memberi
peluang untuk kita agar selalu ‘ngaret’. Sempat saya bertanya akan hal itu,
‘Kenapa ngaret harus diestimasikan?’ mereka menjawab ‘tau lah orang Indonesia’.
Hmm, saya sebagai orang Indonesia pun jujur sangat tersinggung.
Mereka orang Jepang ataupun orang Barat sana selalu berusaha tepat waktu. Bahkan untuk
menaiki sebuah bus pun mereka selalu berusaha disiplin karena jika mereka
terlambat sedikit saja bis itu akan meninggalkannya. Begitulah mereka
membudayakan kedisipinan bukan seperti di Indonesia yang justru bukan orang
takut ketinggalan bis, tapi justru angkot atau bis takut kehilangan para penumpang.
Lalu, jika disana banyak orang yang bisa tepat waktu mengapa kita tidak?
Tidak sulit sebenarnya, mahasiswa yang sudah
memiliki jadwal perkuliahan tentu dia akan berusaha mengikuti jadwal tersebut
dengan tepat waktu, para peserta Ospek yang takut akan seniornya akan berusaha
datang sesuai jadwal kegiatan, sebuah kegiatan yang telah ditentukan tayang
live di TV tentu mereka tidak bisa ‘ngaret’dan lain-lain. Jika kedisiplinan
telah diterapkan akan mudah bagi kita menghilangkan budaya ini. Selalu konsisten
dengan jadwal yang ada tanpa ada estimasi ‘ngaret’. Itu semua bisa kita
lakukan. Sebuah uslub Arab berbunyi:
الوقت كالسيف, ان لم تقطعه قطعك
‘Waktu itu seperti pedang, jika kamu tidak menggunakannya (dengan baik) maka dia akan menebasmu’
Jika ‘ngaret’ ini selalu diestimasikan maka waktu
kita pun akan terkikis dengan ‘ngaret’ ini. Dan jika kita lama-kelamaan
membiasakan hal itu, waktu-waktu yang terkikis itulah yang suatu saat akan
menebasmu.
Yuk, mulai sekarang kita berusaha menghilangkan
budaya ‘ngaret’. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar