Rabu, 15 Mei 2013

Saat Pendidikan Mengorbankan Moral


Ujian Nasional adalah suatu hal yang begitu mengerikan bagi para siswa akan mengalaminya. Bayangkan saja, pembelajaran mereka selama tiga tahun hanya ditentukan dengan mengisi soal ujian dalam waktu 2 jam saja.   Hal inilah yang membuat para siswa was-was. Bahkan kita ketahui bahwa beberapa siswa depresi sehingga memutuskan untuk bunuh diri hanya karena was-was takut tidak lulus. Berbeda dengan sebagian siswa yang lainnya, yaitu mereka berusaha mati-matian mencari kunci jawaban yang benar agar mereka lulus.

Kita ketahui bahwa Ujian Nasional di Indonesia tahun ini mengalami kegagalan yang merugikan banyak pihak. Pendistribusian soal yang lambat membuat beberapa sekolah tidak dapat menerima soal tepat pada waktunya. Alhasil, Ujian Nasional kali ini tidak dilaksanakan secara serempak. Lalu masih bisakah disebut Nasional jika ternyata waktu pelaksanaan tidak bersamaan?

Selidik demi selidik ternyata terlambatnya pendistribusian  soal UN ini dikarenakan soal ujian mulai diberikan ke percetakan hari Sabtu dan hari mulai hari Minggu pendistribusian soal ke seluruh daerah Indonesia dilakukakan. Nah, apakah dalam waktu sehari akan cukup untuk mendistribusikan sekian banyak soal ke seluruh pelosok di Indonesia?

 Ternyata pemerintah melakukan hal ini untuk menghindari adanya kecurangan di kalangan para siswa. Karena di setiap tahun kecurangan siswa semakin meningkat maka percetakan dimulai dari hari Sabtu. Selain itu untuk tahun ini, pemerintah juga mempersiapkan soal yang berbeda bagi setiap siswa yang berada dalam satu kelas. Yaitu dengan adanya 20 soal paket.

Banyak yang berpendapat bahwa pemerintah telalu ‘bersuudzon’ kepada para siswa sehingga UN terasa sangat ketat. Namun, begitulah realita, ini adalah suatu usaha pemerintah agar moral anak Indonesia tidak terkikis dengan turunnya tingkat kejujuran yang dilakukan oleh para siswa. Walaupun ternyata masih saja ada kecurangan yang terjadi pada UN saat ini.

Ironisnya, para guru maupun kepala sekolah ikut-ikutan was-was akan adanya UN ini. Mereka tidak ingin jika para siswanya banyak yang tidak lulus maka sekolahnya pun akan ikut tercoreng namanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberi peluang ketidakjujuran kepada para siswanya dan bahkan ada pula yang langsung memfasilitasi para siswanya sebuah ketidakjujuran.

Lalu, bagaimanakah memecahkan masalah ini? Diakui atau tidak moral para siswa Indonesia mulai terkikis. Selalu ada pikiran di benak mereka agar tidak jujur.  Ketegasan guru dalam mendidik dan mengawasi para siswanya, adalah point penting agar moral dan pendidikan akan tetap seimbang. Guru tentu akan lebih tahu apa yang dipelajari oleh para siswanya. Sehingga ujian sekolah disertai fungsi guru yang hakiki tentu akan lebih efektif dibanding dengan Ujian Nasioal yang telah dilakukan selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts