Ujian Nasional adalah suatu hal yang
begitu mengerikan bagi para siswa akan mengalaminya. Bayangkan saja,
pembelajaran mereka selama tiga tahun hanya ditentukan dengan mengisi soal
ujian dalam waktu 2 jam saja. Hal inilah
yang membuat para siswa was-was. Bahkan kita ketahui bahwa beberapa siswa
depresi sehingga memutuskan untuk bunuh diri hanya karena was-was takut tidak
lulus. Berbeda dengan sebagian siswa yang lainnya, yaitu mereka berusaha
mati-matian mencari kunci jawaban yang benar agar mereka lulus.
Kita ketahui bahwa Ujian Nasional di
Indonesia tahun ini mengalami kegagalan yang merugikan banyak pihak.
Pendistribusian soal yang lambat membuat beberapa sekolah tidak dapat menerima
soal tepat pada waktunya. Alhasil, Ujian Nasional kali ini tidak dilaksanakan
secara serempak. Lalu masih bisakah disebut Nasional jika ternyata waktu
pelaksanaan tidak bersamaan?
Selidik demi selidik ternyata
terlambatnya pendistribusian soal UN ini
dikarenakan soal ujian mulai diberikan ke percetakan hari Sabtu dan hari mulai
hari Minggu pendistribusian soal ke seluruh daerah Indonesia dilakukakan. Nah,
apakah dalam waktu sehari akan cukup untuk mendistribusikan sekian banyak soal
ke seluruh pelosok di Indonesia?
Ternyata pemerintah melakukan hal ini untuk
menghindari adanya kecurangan di kalangan para siswa. Karena di setiap tahun
kecurangan siswa semakin meningkat maka percetakan dimulai dari hari Sabtu.
Selain itu untuk tahun ini, pemerintah juga mempersiapkan soal yang berbeda bagi
setiap siswa yang berada dalam satu kelas. Yaitu dengan adanya 20 soal paket.
Banyak yang berpendapat bahwa
pemerintah telalu ‘bersuudzon’ kepada para siswa sehingga UN terasa sangat ketat.
Namun, begitulah realita, ini adalah suatu usaha pemerintah agar moral anak
Indonesia tidak terkikis dengan turunnya tingkat kejujuran yang dilakukan oleh
para siswa. Walaupun ternyata masih saja ada kecurangan yang terjadi pada UN
saat ini.
Ironisnya, para guru maupun kepala
sekolah ikut-ikutan was-was akan adanya UN ini. Mereka tidak ingin jika para
siswanya banyak yang tidak lulus maka sekolahnya pun akan ikut tercoreng
namanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberi peluang ketidakjujuran kepada
para siswanya dan bahkan ada pula yang langsung memfasilitasi para siswanya
sebuah ketidakjujuran.
Lalu, bagaimanakah memecahkan
masalah ini? Diakui atau tidak moral para siswa Indonesia mulai terkikis.
Selalu ada pikiran di benak mereka agar tidak jujur. Ketegasan guru dalam mendidik dan mengawasi
para siswanya, adalah point penting agar moral dan pendidikan akan tetap
seimbang. Guru tentu akan lebih tahu apa yang dipelajari oleh para siswanya.
Sehingga ujian sekolah disertai fungsi guru yang hakiki tentu akan lebih
efektif dibanding dengan Ujian Nasioal yang telah dilakukan selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar