Rabu, 22 Mei 2013

Peraih Kebahagiaan (chapter I)


‘Grrr..grrr..’ suara hpku bergetar kala itu. Kurogoh bawah bantalku, kulihat waktu menunjukan pukul 01.00 WIB. ‘Siapa sih yang sms semalam ini’ gumanku.  Kubaca isi sms itu sekilas, namun sungguh mataku tak kenal kompromi, tak mengerti aku akan isi sms itu. Tanpa kuhiraukan aku pun kembali terlelap dalam tidurku.
 ‘Zia, cepat bangun shalat tahajud dulu, udah hampir subuh nih!’  Suara umi yang lembut tetap membuatku terbangun, jam bekerku menunjukkan pukul 04.00.
Segera ku bangun agar tak kecewakan ummi.  Tampak wajah bersinar telah memakai mukena saat ku buka pintu. Tak segan ku langsung memeluknya.
‘Eeeeh, ambil air wudhu dulu ah. Biar gak kucel gitu tuh wajahnya’ummi  melepaskannku dari pelukannya.
‘Aaaaaaaah, ummi.’ Rengekku cengeng sambil pergi ke kamar mandi di luar rumah.
Alunan  suara mengaji  abi tertiup di sela angin yang  sepoi-sepoi kala itu. Kuhirup udara subuh yang begitu sejuk. Suara shalawat dan nadhom  terdengar di surau-surau terdekat  saling bersambutan dengan aliran deras sungai belakang rumahku.  Syukurku pada Rabb-ku, suasana ini begitu nikmat terasa.
-;-
Matahari pun masih enggan memunculkan jati dirinya. Pukul 06.30 selesai ku mengaji dengan abi kurogoh bawah bantalku. Kuingat bahwa sms tadi malam yang belum sempat aku seksamai. Deg, tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Isi sms itu:
‘Selamat Faizah Fauziah anda diterima di Kampus Hijau dengan jurusan Matematika, pastikan anda mendaftar ulang pada tanggal 21-23 Juni 2009 Terimakasih -Panitia Penerimaan Mahasiswa baru KH-
Tak jelas isi hati dan pikiranku kala itu. Ada perasaan senang di lubuk hati terdalamku, namun disisi lain ini adalah jurusan pilihanku yang belum pernah aku musyawarahkan dengan abi dan umi. Apalagi abi selalu mengingatkanku agar aku mengambil jurusan agama bukan jurusan umum seperti ‘matematika’. Memang matematika adalah pilihan keduaku yang tak diketahui mereka setelah pilihan pertamaku Tafsir Qur’an yang merupakan request dari sang abi.
Lalu kuintip ruang tengah rumahku. Kulihat umi dan abi sedang bercengkarama menyeduh teh hangat. Ingin segera kuhampiri mereka dan kukatakan berita gembira ini. Namun, perasaan takutku membuat langkahku terhenti. Kuurungkan niatku memberitahukannya hari ini.
-;-
Kucoret kalenderku untuk hari ini, tanggal 22 Juni 2009. Dua hari berlalu namun belum ada keberanianku mengatakan hal itu pada abi dan umi. Besok adalah deadline aku daftar ulang jika tidak hapus sudah harapanku untuk menjadi mahasiswa matematika.
‘Zia, ayo kita makan dulu’,suara ummi dari dapur memotong lamunanku.
Segera kubantu ummi, mempersiapkan makan pagi. Lalu kupanggil abi yang sedang asyik membaca buku untuk makan bersama. Kami pun segera berkumpul dan makan bersama.
Setelah selesai makan, aku pun  merapikan tempat makan tiba-tiba suara abi menuju padaku.
‘Bagaimana hasil testmu di Kampus Hijau Zia, apakah hasilnya sudah keluar?’ pertanyaan abi sontak membuatku kaget.
Akupun duduk agar membuatku sedikit lebih tenang mengatakan itu semua kepada abi.Segera kuteguk  air disampingku. Inilah kesempatan aku mengatakannya pikirku.
‘Hmm..., hasilnya.. sudah keluar Abi’ jawabku terbata-bata.
‘Lho, kapan Zia? Kok kamu belum cerita sama sekali sama abi dan ummi, gimana hasilnya sayang?’suara lembut ummi menyambung obrolan aku dan abi.
‘Sebenarnya, Zia sudah diterima di Kampus hijau Abi, Ummi.. tapi bukan di tafsir Qur’an’ sengaja aku berhenti sejenak meluangkan waktu untuk mereka bertanya.
‘Lalu?’ ummiku memotong. Pertanyaan yang kurang spesifik menurutku sehingga aku sulit untuk memulai dari mana bercerita pada abi dan ummi.
‘Apa pilihan keduamu? Abi lupa, dulu tidak menyarankanmu memilih tafsir hadits di pilihan kedua.’ Abi langsung mengerti, sambil menyeringitkan dahinya.
‘Maafkan Zia abi, tapi Zia telah memilih Matematika di pilihan kedua, dan Zia diterima di jurusan Matematika.’suaraku lirih.
Dahi abi makin mengkerut, lalu beliau melihatku tajam. Sungguh hatiku tak karuan. Ada perasaan lubuk hatiku berkata, apakah aku telah durhaka? Aku sama sekali tak berani memandang abi, tak lama beliau berkata.
‘Bukankah banyak ilmu agama yang harus lebih kamu perdalam dibanding Matematika, itu ilmu umum Zia.’sahut abi dengan tegas tanpa meninggikan suaranya.
‘Sudahlah bi, toh sama-sama  ilmu juga kan dan yang penting Zia bisa mengamalkannya.’ sahut Ummi.
Aku tak kuasa menahan air mata saat itu. Aku pun tersedu menangis. Abi seolah memberi isyarat pada Ummi untuk mengajaknya pergi berbicara tapi tidak didepanku. Kudengar mereka saling beradu argumen. Namun tampaknya itu tak lama, ummi segera keluar dan menghampiriku.
‘Zia, kapan daftar ulang di kampus Hijau itu sayang?’tanya Ummi
‘Hari kemarin sampai besok ummi,’ suaraku masih terisak.
‘Ya sudah sekarang kamu siap-siap ya, kita daftar ulang hari ini bareng ummi dan abi’ senyumnya yang lebar mengiringi perkataanya.
‘Benar ummi?’aku seakan tak percaya, abi yang selalu teguh pendirian kala itu begitu mudah mengubah pikirannya dan mengizinkan aku menjadi mahasiswa Matematika. Kupeluk ummi dengan erat. Kulihat abi didepan pintu memberikan senyuman padaku. Kuhampiri abi dan aku pun mencium tangannya. Abi mengusap kepalaku. Sungguh hatiku begitu senang. Terimakasih Ya Allah.
-;-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts