‘Grrr..grrr..’
suara hpku bergetar kala itu. Kurogoh bawah bantalku, kulihat waktu menunjukan
pukul 01.00 WIB. ‘Siapa sih yang sms semalam ini’ gumanku. Kubaca isi sms itu sekilas, namun sungguh
mataku tak kenal kompromi, tak mengerti aku akan isi sms itu. Tanpa kuhiraukan
aku pun kembali terlelap dalam tidurku.
‘Zia, cepat bangun shalat tahajud dulu, udah
hampir subuh nih!’ Suara umi yang lembut
tetap membuatku terbangun, jam bekerku menunjukkan pukul 04.00.
Segera
ku bangun agar tak kecewakan ummi.
Tampak wajah bersinar telah memakai mukena saat ku buka pintu. Tak segan
ku langsung memeluknya.
‘Eeeeh,
ambil air wudhu dulu ah. Biar gak kucel gitu tuh wajahnya’ummi melepaskannku dari pelukannya.
‘Aaaaaaaah,
ummi.’ Rengekku cengeng sambil pergi ke kamar mandi di luar rumah.
Alunan suara mengaji
abi tertiup di sela angin yang
sepoi-sepoi kala itu. Kuhirup udara subuh yang begitu sejuk. Suara
shalawat dan nadhom terdengar di
surau-surau terdekat saling bersambutan
dengan aliran deras sungai belakang rumahku.
Syukurku pada Rabb-ku, suasana ini begitu nikmat terasa.
-;-
Matahari
pun masih enggan memunculkan jati dirinya. Pukul 06.30 selesai ku mengaji
dengan abi kurogoh bawah bantalku. Kuingat bahwa sms tadi malam yang belum
sempat aku seksamai. Deg, tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Isi sms
itu:
‘Selamat
Faizah Fauziah anda diterima di Kampus Hijau dengan jurusan Matematika,
pastikan anda mendaftar ulang pada tanggal 21-23 Juni 2009 Terimakasih -Panitia
Penerimaan Mahasiswa baru KH-
Tak
jelas isi hati dan pikiranku kala itu. Ada perasaan senang di lubuk hati
terdalamku, namun disisi lain ini adalah jurusan pilihanku yang belum pernah
aku musyawarahkan dengan abi dan umi. Apalagi abi selalu mengingatkanku agar
aku mengambil jurusan agama bukan jurusan umum seperti ‘matematika’. Memang
matematika adalah pilihan keduaku yang tak diketahui mereka setelah pilihan
pertamaku Tafsir Qur’an yang merupakan request dari sang abi.
Lalu
kuintip ruang tengah rumahku. Kulihat umi dan abi sedang bercengkarama menyeduh
teh hangat. Ingin segera kuhampiri mereka dan kukatakan berita gembira ini.
Namun, perasaan takutku membuat langkahku terhenti. Kuurungkan niatku
memberitahukannya hari ini.
-;-
Kucoret
kalenderku untuk hari ini, tanggal 22 Juni 2009. Dua hari berlalu namun belum
ada keberanianku mengatakan hal itu pada abi dan umi. Besok adalah deadline aku
daftar ulang jika tidak hapus sudah harapanku untuk menjadi mahasiswa
matematika.
‘Zia,
ayo kita makan dulu’,suara ummi dari dapur memotong lamunanku.
Segera
kubantu ummi, mempersiapkan makan pagi. Lalu kupanggil abi yang sedang asyik
membaca buku untuk makan bersama. Kami pun segera berkumpul dan makan bersama.
Setelah
selesai makan, aku pun merapikan tempat
makan tiba-tiba suara abi menuju padaku.
‘Bagaimana
hasil testmu di Kampus Hijau Zia, apakah hasilnya sudah keluar?’ pertanyaan abi
sontak membuatku kaget.
Akupun
duduk agar membuatku sedikit lebih tenang mengatakan itu semua kepada abi.Segera
kuteguk air disampingku. Inilah
kesempatan aku mengatakannya pikirku.
‘Hmm...,
hasilnya.. sudah keluar Abi’ jawabku terbata-bata.
‘Lho,
kapan Zia? Kok kamu belum cerita sama sekali sama abi dan ummi, gimana hasilnya
sayang?’suara lembut ummi menyambung obrolan aku dan abi.
‘Sebenarnya,
Zia sudah diterima di Kampus hijau Abi, Ummi.. tapi bukan di tafsir Qur’an’
sengaja aku berhenti sejenak meluangkan waktu untuk mereka bertanya.
‘Lalu?’
ummiku memotong. Pertanyaan yang kurang spesifik menurutku sehingga aku sulit
untuk memulai dari mana bercerita pada abi dan ummi.
‘Apa
pilihan keduamu? Abi lupa, dulu tidak menyarankanmu memilih tafsir hadits di
pilihan kedua.’ Abi langsung mengerti, sambil menyeringitkan dahinya.
‘Maafkan
Zia abi, tapi Zia telah memilih Matematika di pilihan kedua, dan Zia diterima
di jurusan Matematika.’suaraku lirih.
Dahi
abi makin mengkerut, lalu beliau melihatku tajam. Sungguh hatiku tak karuan.
Ada perasaan lubuk hatiku berkata, apakah aku telah durhaka? Aku sama sekali
tak berani memandang abi, tak lama beliau berkata.
‘Bukankah
banyak ilmu agama yang harus lebih kamu perdalam dibanding Matematika, itu ilmu
umum Zia.’sahut abi dengan tegas tanpa meninggikan suaranya.
‘Sudahlah
bi, toh sama-sama ilmu juga kan
dan yang penting Zia bisa mengamalkannya.’ sahut Ummi.
Aku
tak kuasa menahan air mata saat itu. Aku pun tersedu menangis. Abi seolah
memberi isyarat pada Ummi untuk mengajaknya pergi berbicara tapi tidak
didepanku. Kudengar mereka saling beradu argumen. Namun tampaknya itu tak lama,
ummi segera keluar dan menghampiriku.
‘Zia,
kapan daftar ulang di kampus Hijau itu sayang?’tanya Ummi
‘Hari
kemarin sampai besok ummi,’ suaraku masih terisak.
‘Ya
sudah sekarang kamu siap-siap ya, kita daftar ulang hari ini bareng ummi dan
abi’ senyumnya yang lebar mengiringi perkataanya.
‘Benar
ummi?’aku seakan tak percaya, abi yang selalu teguh pendirian kala itu begitu
mudah mengubah pikirannya dan mengizinkan aku menjadi mahasiswa Matematika.
Kupeluk ummi dengan erat. Kulihat abi didepan pintu memberikan senyuman padaku.
Kuhampiri abi dan aku pun mencium tangannya. Abi mengusap kepalaku. Sungguh
hatiku begitu senang. Terimakasih Ya Allah.
-;-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar