Tidak
terasa, setelah mengikuti masa ta’aruf mahasiswa yang cukup panjang. Akhirnya
hari ini aku akan merasakan bangku perkuliahan. Mata kuliah untuk kali pertama
perkuliahan dimulai adalah mata kuliah kalkulus. Ya, awalnya aku masih asing
dengan istilah kalkulus ini. Hanya mendengar saja. Namun, setelah aku tahu
bahwa itu adalah mata kuliahku aku pun mulai mencari tahu.
Hiruk
pikuk di kelas terasa begitu kental, perkenalan antar teman baru dimulai. Saat
dosen datang suasana pun tiba-tiba hening layak kecoa merengek yang tiba-tiba
terinjak.
‘Assalamua’laikum
teman-teman, selamat pagi’ sapa dosen kalkulus yang masih terlihat sangat muda
itu. Beliau begitu energik, kami seolah tersihir saat beliau datang.
‘Perkenalkan
nama saya Khawarizmi Al-Farisi, namun kalian bisa memanggil saya pak Ariz, saya
disini akan memperkenalkan kalian dengan Kalkulus’ tukasnya dengan lugas
disertai senyum indahnya.
Suasana
hening tetap berlanjut, entah mengapa. Bisa jadi karena kami mahasiswa baru,
atau tidak kami memang benar-benar tersihir olehnya.
‘Bapak
lulusan mana pak?’ tiba-tiba suara temanku yang polos itu meleburkan
keheningan.
‘Saya
lulusan Matematika S1 ITB dan S2 Harvard University di Amerika.’ senyumnya
selalu menghiasi setiap perkataannya.
Entah
mengapa jantungku berdegup lebih kencang, aliran darahku menambah kecepatan dan
urat-uratku terasa lebih meregang. Merinding rasanya, aku benar-benar kagum
padanya.
Pertemuan
pertama belum ada pembelajaran. Kami berdiskusi dengan perkenalkan diri kami
masing-masing kepada Pak Ariz.
‘Kamu,
silahkan perkenalkan dirimu dan alasanmu masuk jurusan Matematika ini.’ Sahut
Pak Ariz menunjukku.
‘Nama
saya Faizah Fauziah pak, saya biasa dipanggil Zia dan adapun saya memilih
Matematika karena saya suka Matematika pak’ jawabku
‘Wah namanya bagus, Peraih kebahagiaan insya
Allah jadi do’a. Karena setiap nama seseorang akan menjadi sebuah do’a bagi
pemilik nama tersebut.’Sahutnya dilampiri sebuah senyum tanpa melihatku.
Pak
Ariz menanyakan hal yang sama kepada setiap mahasiswa di kelas. Suasana begitu
cair dengan kemahiran Pak Ariz berkomunikasi disertai kata-katanya yang bijak
yang berkaitan dengan agama
Disanalah
kekagumanku benar-benar langsung memuncak. Aku ingin seperti beliau yang sukses
dunia tanpa melupakan ilmu kewajiban untuk akhirat.
Dan
minggu demi minggu bulan demi bulan pun berlalu kami diajari oleh beliau. Belum
ada sikapnya sebagai dosen yang membuat
kekagumanku berkurang. Beliau begitu mahir membawa kami dalam kenyamanan akan
Matematika khususnya Kalkulus. Beliau mengajari kami untuk mata Kalkulus tiga
semester berturut-turut sehingga kami telah merasa sangat dekat dengan beliau.
-:-
‘Hey, ngelamun
aja yah kamu mah’ tiba-tiba Andin sahabatku mengagetkanku dengan logat sundanya
yang kental.
‘Aah, Andin
lagi galau nih tugas Kalkulusnya belum kelar-kelar.’ Jawabku.
‘Yah tugas mah
gak usah digalau-in Zi. Eh Zia, kamu nyadar gak sih Pak Ariz tuh kayak
menspesialkan kamu dikelas. Rasanya pandangan matanya beliau tuh suka curi-curi
pandang gitu deh ma kamu.’ Sahut andin sambil cekikikan.
‘Ah Andin,
jangan bikin GR deh. Biasa aja akh perasaan, ke kamu juga kayak gitu kan? Malah
sama kamu sering banget bercanda.’jawabku.
‘Hmm, gak deh
percaya sama aku. Pandangan beliau ke kamu beda banget dah pokoknya.’ Andin
membalas.
‘Udah ah Ndin
kamu tambah ngawur aja nih. Ayo kita kerjain tugasnya.’ Aku mengalihkan
pembicaraan.
Malam setelah
pembicaraan itu sama Andin. Aku termenung, kadang aku memang merasakan apa yang
dikatakan Andin. Namun aku akan segera menepis itu semua. Karena aku tahu diri,
orang yang sukses seperti Pak Ariz tidak mungkin menyukai aku yang masih banyak
kekurangan ini. Segera kutangkis apa yang aku pikirkan.
-;-
Saat
aku menginjak semester IV, aku mulai aktif berorganisasi. Disanalah aku kenal
dengan kakak tingkat jurusan dan fakultas.
Pagi
itu aku menghadiri rapat suatu acara. Dan ternyata yang menghadiri rapat itu
hanya aku dan seorang kakak tingkat. Zulfikar Setiadi namanya.
‘Wah
sepertinya yang lain gak akan hadir nih, sudah kita mulai saja rapatnya.’ Kak
Zul memulai perbincangan.
Kami
pun berbincang tentang acara jurusan kami yang akan segera digelar.
Dari
saat itulah kami mulai merasa dekat. Koordinasi
tentang acara tersebut yang bersifat daily membuat komunikasi kami terus
berlanjut. Sosoknya yang religius dan ringan bergaul membuat aku pun merasa
kagum padanya. Namun, aku tetap selalu menjaga diri, mengingat pesan ummi dan
abi.
Hingga
suatu hari Kak Zul mengirimku sebuah sms meminta sebuah hubungan khusus antara
aku dengannya. Ada perasaan kecewa dalam hatiku, karena kukira Kak Zul adalah seorang
yang religi tak kenal akan istilah itu. Namun, karena tak dapat dipungkiri
hatiku juga merasakan hal yang sama. Hingga aku putuskan untuk memintanya
mendatangi ummi dan abi. Kami putuskan untuk tidak dulu berkomunikasi sampai
suatu saat nanti kak Zul siap menemui abi dan ummi. Dia pun berjanji dan
berkata ‘Deadline saya melamar kamu
adalah saat kamu wisuda.’gumannya.
-:-
Waktu
terasa lebih cepat, kini aku telah menginjak semester akhir. Dalam kepenatanku
menyusun skripsi akhirnya aku memutuskan untuk rehat sebentar dan pulang ke
rumah menemui abi dan ummi dan memohon do’a dari mereka akan kelancaran
skripsiku.
Aku
pun harus menempuh jarak yang melelahkan dengan lama perjalanan 7 jam. Sampai
di kampung halaman aku langsung menuju belakang rumah. Hembusan angin sejuk di
sore hari tetap menjadi ikon kampung halamanku. Semilir angin disertai aliran
sungai adalah hal yang seringkali aku rindukan. Berbeda dengan lingkungan
Kampus Hijau yang telah bising dengan hiruk pikuk mobil-mobil yang berlalu
lalang.
Kuucapkan
salam pada ummi dan abi yang sedang asyik melihat acara TV. Kucium tangan abi
lalu kupeluk ummi. Mereka menyambut kedatanganku.
‘Wah, anak ummi kok jadi kurus gini.
Mikirin angka terus ya.’ Celoteh ummi. Abi hanya tersenyum.
Abi
memang masih sangat jarang memberikan komentar tentang kuliahku. Bahkan sampai
sekarang aku menginjak semester akhir. Entah mungkin kekurang setujuannya
dahulu masih berbekas atau entahlah aku pun tak tau. Namun yang pasti beliau
selalu memberiku kata-kata bijak yang mengispirasiku.
Suasana
makan bersama yang sudah lama tak kurasakan kini kembali. Walaupun hanya
bertiga namun suasana berjam’ah begitu kental terasa. Obrolan setelah selesai
makan selalu jadi bumbu perekat kedekatan keluarga kami.
‘Apakah kamu sudah punya calon untuk dijadikan
pendamping hidupmu, Zia?’ Tiba-tiba abi memulai perbincangan perekat kami.
Pertanyaannya
terkesan sangat formal. Kata itu seolah langsung mencambukku. Aku bingung
menjawab pertanyaan abi. Kuingat Kak Zul yang waktu itu sempat ingin serius
denganku. Dia berjanji akan melamarku, walau entah kapan. Setelah dia lulus,
dia bak ditelan bumi hilang tanpa kabar. Maka aku pun memutuskan untuk fokus
dulu kuliah, sehingga aku tak pernah memikirkan hal seperti itu lagi.
‘Iya
sayang, kamu udah dewasa lho sekarang, rasanya ummi belum pernah mendengar
celotehmu tentang hal itu.’ummi meneruskan abi.
‘Hmm,
rasanya belum ada ummi. Belum ada yang cocok.’gumanku sambil tersenyum tanpa
melihatkan kebingungan sebenarnya.
‘Abi
sarankan, kamu mulai terbuka. Umur abi dan ummi-mu sudah semakin menua. Kami
ingin menyaksikan pernikahanmu dulu sebelum kami tutup usia. Ini adalah masalah
urgent bagi seorang gadis seumuranmu. Zia tetap harus memikirkan hal ini. Kamu
adalah anak semata wayang abi dan ummi makanya abi selalu ingin yang terbaik
buat Zia.’Saran abi panjang.
‘Sebaiknya
jika ada yang siap, kamu suruh aja langsung menemui abi dan ummi yah sayang.’
Ummi menyambung.
‘Iya
ummi, Zia siap laksanakan. Tenang saja.’ Jawabku dengan senyum.
Setelah
perbincangan selesai aku pun pergi ke kamar. Rasanya air mata ini tak sanggup
aku tahan lagi. Hal ini memang kadang terpikirkan, kuingat janji Kak Zul dulu
yang akan menemui abi dan ummi saat dia sudah siap. Namun, entah itu pasti atau
hanya harapan palsu. Aku pun berusaha untuk tetap tegar menyelesaikan dulu
skripsiku. Setelah skripsiku selesai nanti, aku akan memikirkan hal ini
matang-matang.
Setelah satu minggu di rumah, rasanya sudah cukup rehatku. Aku pun
kembali melanjutkan misiku. Menyelesaikan skripsi dan mejalankan saran abi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar