Rabu, 22 Mei 2013

Peraih Kebahagiaan (chapter II)


Tidak terasa, setelah mengikuti masa ta’aruf mahasiswa yang cukup panjang. Akhirnya hari ini aku akan merasakan bangku perkuliahan. Mata kuliah untuk kali pertama perkuliahan dimulai adalah mata kuliah kalkulus. Ya, awalnya aku masih asing dengan istilah kalkulus ini. Hanya mendengar saja. Namun, setelah aku tahu bahwa itu adalah mata kuliahku aku pun mulai mencari tahu.
Hiruk pikuk di kelas terasa begitu kental, perkenalan antar teman baru dimulai. Saat dosen datang suasana pun tiba-tiba hening layak kecoa merengek yang tiba-tiba terinjak.
‘Assalamua’laikum teman-teman, selamat pagi’ sapa dosen kalkulus yang masih terlihat sangat muda itu. Beliau begitu energik, kami seolah tersihir saat beliau datang.
‘Perkenalkan nama saya Khawarizmi Al-Farisi, namun kalian bisa memanggil saya pak Ariz, saya disini akan memperkenalkan kalian dengan Kalkulus’ tukasnya dengan lugas disertai senyum indahnya.
Suasana hening tetap berlanjut, entah mengapa. Bisa jadi karena kami mahasiswa baru, atau tidak kami memang benar-benar tersihir olehnya.
‘Bapak lulusan mana pak?’ tiba-tiba suara temanku yang polos itu meleburkan keheningan.
‘Saya lulusan Matematika S1 ITB dan S2 Harvard University di Amerika.’ senyumnya selalu menghiasi setiap perkataannya.
Entah mengapa jantungku berdegup lebih kencang, aliran darahku menambah kecepatan dan urat-uratku terasa lebih meregang. Merinding rasanya, aku benar-benar kagum padanya.
Pertemuan pertama belum ada pembelajaran. Kami berdiskusi dengan perkenalkan diri kami masing-masing kepada Pak Ariz.
‘Kamu, silahkan perkenalkan dirimu dan alasanmu masuk jurusan Matematika ini.’ Sahut Pak Ariz menunjukku.
‘Nama saya Faizah Fauziah pak, saya biasa dipanggil Zia dan adapun saya memilih Matematika karena saya suka Matematika pak’ jawabku
 ‘Wah namanya bagus, Peraih kebahagiaan insya Allah jadi do’a. Karena setiap nama seseorang akan menjadi sebuah do’a bagi pemilik nama tersebut.’Sahutnya dilampiri sebuah senyum tanpa melihatku.
Pak Ariz menanyakan hal yang sama kepada setiap mahasiswa di kelas. Suasana begitu cair dengan kemahiran Pak Ariz berkomunikasi disertai kata-katanya yang bijak yang berkaitan dengan agama
Disanalah kekagumanku benar-benar langsung memuncak. Aku ingin seperti beliau yang sukses dunia tanpa melupakan ilmu kewajiban untuk akhirat.
Dan minggu demi minggu bulan demi bulan pun berlalu kami diajari oleh beliau. Belum ada sikapnya sebagai dosen  yang membuat kekagumanku berkurang. Beliau begitu mahir membawa kami dalam kenyamanan akan Matematika khususnya Kalkulus. Beliau mengajari kami untuk mata Kalkulus tiga semester berturut-turut sehingga kami telah merasa sangat dekat dengan beliau.
-:-
‘Hey, ngelamun aja yah kamu mah’ tiba-tiba Andin sahabatku mengagetkanku dengan logat sundanya yang kental.
‘Aah, Andin lagi galau nih tugas Kalkulusnya belum kelar-kelar.’ Jawabku.
‘Yah tugas mah gak usah digalau-in Zi. Eh Zia, kamu nyadar gak sih Pak Ariz tuh kayak menspesialkan kamu dikelas. Rasanya pandangan matanya beliau tuh suka curi-curi pandang gitu deh ma kamu.’ Sahut andin sambil cekikikan.
‘Ah Andin, jangan bikin GR deh. Biasa aja akh perasaan, ke kamu juga kayak gitu kan? Malah sama kamu sering banget bercanda.’jawabku.
‘Hmm, gak deh percaya sama aku. Pandangan beliau ke kamu beda banget dah pokoknya.’ Andin membalas.
‘Udah ah Ndin kamu tambah ngawur aja nih. Ayo kita kerjain tugasnya.’ Aku mengalihkan pembicaraan.
Malam setelah pembicaraan itu sama Andin. Aku termenung, kadang aku memang merasakan apa yang dikatakan Andin. Namun aku akan segera menepis itu semua. Karena aku tahu diri, orang yang sukses seperti Pak Ariz tidak mungkin menyukai aku yang masih banyak kekurangan ini. Segera kutangkis apa yang aku pikirkan.
-;-
Saat aku menginjak semester IV, aku mulai aktif berorganisasi. Disanalah aku kenal dengan kakak tingkat jurusan dan fakultas.
Pagi itu aku menghadiri rapat suatu acara. Dan ternyata yang menghadiri rapat itu hanya aku dan seorang kakak tingkat. Zulfikar Setiadi namanya.
‘Wah sepertinya yang lain gak akan hadir nih, sudah kita mulai saja rapatnya.’ Kak Zul memulai perbincangan.
Kami pun berbincang tentang acara jurusan kami yang akan segera digelar.
Dari saat itulah kami  mulai merasa dekat. Koordinasi tentang acara tersebut yang bersifat daily membuat komunikasi kami terus berlanjut. Sosoknya yang religius dan ringan bergaul membuat aku pun merasa kagum padanya. Namun, aku tetap selalu menjaga diri, mengingat pesan ummi dan abi.
Hingga suatu hari Kak Zul mengirimku sebuah sms meminta sebuah hubungan khusus antara aku dengannya. Ada perasaan kecewa dalam hatiku, karena kukira Kak Zul adalah seorang yang religi tak kenal akan istilah itu. Namun, karena tak dapat dipungkiri hatiku juga merasakan hal yang sama. Hingga aku putuskan untuk memintanya mendatangi ummi dan abi. Kami putuskan untuk tidak dulu berkomunikasi sampai suatu saat nanti kak Zul siap menemui abi dan ummi. Dia pun berjanji dan berkata  ‘Deadline saya melamar kamu adalah saat kamu wisuda.’gumannya.
-:-
Waktu terasa lebih cepat, kini aku telah menginjak semester akhir. Dalam kepenatanku menyusun skripsi akhirnya aku memutuskan untuk rehat sebentar dan pulang ke rumah menemui abi dan ummi dan memohon do’a dari mereka akan kelancaran skripsiku.
Aku pun harus menempuh jarak yang melelahkan dengan lama perjalanan 7 jam. Sampai di kampung halaman aku langsung menuju belakang rumah. Hembusan angin sejuk di sore hari tetap menjadi ikon kampung halamanku. Semilir angin disertai aliran sungai adalah hal yang seringkali aku rindukan. Berbeda dengan lingkungan Kampus Hijau yang telah bising dengan hiruk pikuk mobil-mobil yang berlalu lalang.
Kuucapkan salam pada ummi dan abi yang sedang asyik melihat acara TV. Kucium tangan abi lalu kupeluk ummi. Mereka menyambut kedatanganku.
 ‘Wah, anak ummi kok jadi kurus gini. Mikirin angka terus ya.’ Celoteh ummi. Abi hanya tersenyum.
Abi memang masih sangat jarang memberikan komentar tentang kuliahku. Bahkan sampai sekarang aku menginjak semester akhir. Entah mungkin kekurang setujuannya dahulu masih berbekas atau entahlah aku pun tak tau. Namun yang pasti beliau selalu memberiku kata-kata bijak yang mengispirasiku.
Suasana makan bersama yang sudah lama tak kurasakan kini kembali. Walaupun hanya bertiga namun suasana berjam’ah begitu kental terasa. Obrolan setelah selesai makan selalu jadi bumbu perekat kedekatan keluarga kami.
 ‘Apakah kamu sudah punya calon untuk dijadikan pendamping hidupmu, Zia?’ Tiba-tiba abi memulai perbincangan perekat kami.
Pertanyaannya terkesan sangat formal. Kata itu seolah langsung mencambukku. Aku bingung menjawab pertanyaan abi. Kuingat Kak Zul yang waktu itu sempat ingin serius denganku. Dia berjanji akan melamarku, walau entah kapan. Setelah dia lulus, dia bak ditelan bumi hilang tanpa kabar. Maka aku pun memutuskan untuk fokus dulu kuliah, sehingga aku tak pernah memikirkan hal seperti  itu lagi.
‘Iya sayang, kamu udah dewasa lho  sekarang, rasanya ummi belum pernah mendengar celotehmu tentang hal itu.’ummi meneruskan abi.
‘Hmm, rasanya belum ada ummi. Belum ada yang cocok.’gumanku sambil tersenyum tanpa melihatkan kebingungan sebenarnya.
‘Abi sarankan, kamu mulai terbuka. Umur abi dan ummi-mu sudah semakin menua. Kami ingin menyaksikan pernikahanmu dulu sebelum kami tutup usia. Ini adalah masalah urgent bagi seorang gadis seumuranmu. Zia tetap harus memikirkan hal ini. Kamu adalah anak semata wayang abi dan ummi makanya abi selalu ingin yang terbaik buat Zia.’Saran abi panjang.
‘Sebaiknya jika ada yang siap, kamu suruh aja langsung menemui abi dan ummi yah sayang.’ Ummi menyambung.
‘Iya ummi, Zia siap laksanakan. Tenang saja.’ Jawabku dengan senyum.
Setelah perbincangan selesai aku pun pergi ke kamar. Rasanya air mata ini tak sanggup aku tahan lagi. Hal ini memang kadang terpikirkan, kuingat janji Kak Zul dulu yang akan menemui abi dan ummi saat dia sudah siap. Namun, entah itu pasti atau hanya harapan palsu. Aku pun berusaha untuk tetap tegar menyelesaikan dulu skripsiku. Setelah skripsiku selesai nanti, aku akan memikirkan hal ini matang-matang.
Setelah satu minggu di rumah, rasanya sudah cukup rehatku. Aku pun kembali melanjutkan misiku. Menyelesaikan skripsi dan mejalankan saran abi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts