Hari demi hari skripsiku mulai rampung. Hingga saat itu aku membuka
akun facebook yang selama aku membuat skripsi jarang aku buka. Tak lama
aku online, tiba-tiba ada yang menyapaku, Khawarizmi Al-Farisi. Deg,
jantungku rasanya langsung berdegup sangat kencang. Sebelumnya aku belum pernah
sama sekali bercakap dengan beliau dalam akun Facebook. Aku pun rasanya sudah
lama sekali tak bebincang dengannya, karena sudah tidak pernah mengajar lagi.
‘Assalamu’alaikum
Zia, bagaimana skripsinya sudah rampung?’
‘A’laikumsalam.
Alhamdulillah sedikit lagi pak. Do’anya ya pak.’
‘Iya
insya Allah do’a saya selalu menyertai para mahasiswa saya. Semoga selalu
diberi kelancaran dalam menjalankan kebaikan.’
‘Aamiin
pak.’
‘Jika
perlu bantuan, saya siap membantu Zia, kontak saja ke number saya ya.’
‘Oh
iya pak, insya Allah. Terima kasih sebelumnya pak.’
‘Iya,
sama-sama. Gak sabar nih pengen liat Zia wisuda, Good luck ya’
‘Iya
pak, terimakasih.’
‘Maaf
saya duluan ya, Assalamu’alaikum’
‘Wa’alaikumsalam
warahmatullah.’
Setelah
itu Pak Ariz langsung offline. Percakapan itu terasa sangat singkat.
Kebahagiaanku saat itu tak dapat aku ungkapkan. Aku merasa senang bisa disapa
orang yang sangat aku kagumi. Ada perasaan senang di hati, terbesit dalam
pikiranku apa yang pernah dikatakan Andin dulu. Segera kutepis hal itu, karena mungkin hal itu beliau lakukan ke semua
mahasiswanya yang sedang menyusun skripsi.
Setelah
percakapan itu, aku pun hanya sesekali bertanya kepada beliau tentang
skripsiku. Tak pernah ada kontak lagi antara kami.
-;-
Kini
semua tugasku sebagai mahasiswa telah terkikis sedikit demi sedikit. Hingga
besoklah puncaknya. Puncak dimana aku akan menjadi seorang wisudawati.
Hari
ini aku akan menjemput ummi dan abi di terminal, mereka datang lebih awal
supaya besok pagi tidak terlambat dan dalam keadaan fresh.
Saat
aku menuju terminal kudapatkan sebuah sms baru. Sebuah nomor baru. Lalu kubuka
sms yang berbunyi:
‘Assalamu’alaikum.wr.wb.
Zia, selamat ya besok Zia udah mau wisuda. Maafkan kakak, tidak bisa menepati
janji kakak untuk menemui ummi dan abi Zia saat wisuda besok. Kak yakin ada
yang jauh lebih baik dan jauh lebih
pantas bersanding dengan Zia dibanding kakak. Sekali lagi maafkan kakak ya Zia.’
-Zulfikar Setiadi-
Air
mataku menetes bulir demi bulir. Aku benar tak kuasa menolak emosi hatiku. Dia
memang bukan jodohku. Tersirat perasaan kecewa mendalam. Setelah menghilang
tanpa kabar sama sekali dengan pemberian harapan tinggi, kini dengan mudah dia
mengingkari janji tanpa suatu alasan yang pasti. Namun, segera kuhapus air
mataku. Kuingat sebenarnya tak ada kontak lagi antara kami pun adalah
permintaanku. Ini bukan kesalahan mutlak Kak Zul. Aku berusaha meyakinkan diri,
janji Allah itu pasti. Kubalas sms itu tanpa menampakkan kekecewaanku.
‘Wa’alaikumsalam.wr.wb.
Iya kak jika itu sudah pilihan kakak. Zia juga minta maaf atas semua kesalahan
Zia sama kakak.’
Isi smsku singkat. Sengaja aku tidak bertanya alasan Kak Zul, Aku
tahu sosok dia yang tak akan gegabah dalam memutuskan sesuatu. Pasti ada alasan
yang sebenarnya bisa diterima. Jika aku tanyakan pun itu tak tak akan merubah
keadaan. Terimakasih Kak Zul. Biarlah aku merasakan kekecewaanku ini tanpa
seorang pun mengetahui.
-:-
Alhamdulillah, akhirnya hari ini adalah salah satu hari yang sangat
aku tunggu . Hari ini aku akan wisuda dengan 3000 mahasiswa lainnya. Kekecewaanku
kemarin oleh Kak Zul telah sirna karena kesibukanku akan persiapan wisuda.Abi
dan ummi tampak bahagia kini anak semata wayangnya akan menjadi sarjana.
‘Ingat,
kini adalah awal perjuanganmu Zia.’ Nasehat abi malam tadi.
Acara
terasa begitu khidmat. Aku sempat meneteskan air mata saat Rektor berpesan akan
arti kehidupan. Selain itu, kulihat mata abi yang berkaca-kaca dan mata ummi
yang sesekali mengusap pipinya dengan tisu karena basah saat aku terpanggil ke
depan.
Setelah
acara selesai, sahabat dan seluruh kerabat memberikanku ucapan demi ucapan.
Beberapa rangkaian bunga aku dapatkan.
Tiba-tiba
sahabatku Andin mengagetkanku dari belakang. Dia adalah sahabat terbaikku
semasa bangku perkuliahan. Namun sayang, kami tidak bisa wisuda bersama saat
ini.
‘Ziaaaa..
selamat ya. Mudah-mudahan aku cepat nyusul’ dia memberikan aku sebuah rangkaian
bunga yang indah.
‘Aamiin,
sahutku. Makasih ya sayang’ Kupeluk sahabatku itu.
‘Dan
ini, ada kado spesial buatmu.’ Seru Andin sambil kembali mengeluarkan rangkaian
bunga cantik yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya dengan tangan
kiri.
‘Dari
siapa Ndin?’ tanyaku heran.
‘Ada
yang mau lamar kamu tuh, baca aja deh.’ Andin sedikit sewot dengan lesung
pipitnya.
Kata
lamar yang dikatakan Andin mengagetkanku, kak Zul sudah pasti tidak akan
melakukan hal itu karena dia telah pamit padaku. Lalu siapa? Benakku bertanya.
Segera kubuka note kecil dalam rangkaian bunga itu.
Setelah
sekian lama perasaan ini tereintegrasi
Hari ini adalah limit yang tepat untuk
mendeferensiasi semua ini
Saya
adalah seorang variabel y yang ingin meminta izin padamu variabel x agar kita
bisa membuat suatu persamaan bersama.
-Khawarizmi
Al-Farisi-
Aku
bingung seolah tak percaya, kulirik wajah Andin. Ia memandangku pasti.
‘Ini
serius Ndin? Kamu pasti bercandain aku yah?’ aku masih tak percaya.
‘Ini
serius Zia.’ Andin memastikan.
‘Pak
Ariz sudah menemui ummi dan abi seminggu yan lalu Zia. Ummi dan abi telah mengizinkan,
tapi ummi dan abi akan sepenuhnya memberi kamu wewenang untuk memutuskan hal
ini. Kami tidak akan memaksa.’ Ummi yang sejak tadi disampingku memulai suatu
perbincangan serius.
Aku
benar-benar heran mengapa ummi dan abi sama sekali tidak membicarakan hal ini
dari tadi malam. Setidaknya,aku tidak akan shock seperti ini.
Tampaknya
Pak Ariz telah memperhatikanku dari jauh. Kemudian tiba-tiba Pak Ariz
menghampiriku dari belakang.
‘Maaf,
saya tidak pernah berbicara langsung padamu Zia. Karena sekaranglah waktunya, bersediakah
kamu untuk saya pinang?’ Pak Ariz memang orang yang tak pernah basa basi,
beliau langsung to the point.
Aku menghela
nafas. Ini adalah jawaban dari Sang Khalik, aku tau bahwa Pak Ariz tentu jauh
lebih baik dari Kak Zul. Aku baru mengerti ungkapan Pak Ariz ‘gak sabar
menunggu Zia wisuda’ saat chat perdana kala itu.
Tanpa
berpikir panjang lagi, kuanggukkan kepalaku dengan iringan senyuman tanpa
berkata. Pak Ariz, Andin, ummi dan abi pun ikut mengiringi senyumanku. Alhamdulillah.
Kini sebagian mimpiku telah terwujud. Inilah sebagian puncak kebahagiaanku.
Kini aku meraih sebuah kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar