Rabu, 22 Mei 2013

Peraih kebahagian (chapter III)


Hari demi hari skripsiku mulai rampung. Hingga saat itu aku membuka akun facebook yang selama aku membuat skripsi jarang aku buka. Tak lama aku online, tiba-tiba ada yang menyapaku, Khawarizmi Al-Farisi. Deg, jantungku rasanya langsung berdegup sangat kencang. Sebelumnya aku belum pernah sama sekali bercakap dengan beliau dalam akun Facebook. Aku pun rasanya sudah lama sekali tak bebincang dengannya, karena sudah tidak pernah mengajar lagi.
‘Assalamu’alaikum Zia, bagaimana skripsinya sudah rampung?’
‘A’laikumsalam. Alhamdulillah sedikit lagi pak. Do’anya ya pak.’
‘Iya insya Allah do’a saya selalu menyertai para mahasiswa saya. Semoga selalu diberi kelancaran dalam menjalankan kebaikan.’
‘Aamiin pak.’
‘Jika perlu bantuan, saya siap membantu Zia, kontak saja ke number saya ya.’
‘Oh iya pak, insya Allah. Terima kasih sebelumnya pak.’
‘Iya, sama-sama. Gak sabar nih pengen liat Zia wisuda, Good luck ya’
‘Iya pak, terimakasih.’
‘Maaf saya duluan ya, Assalamu’alaikum’
‘Wa’alaikumsalam warahmatullah.’
Setelah itu Pak Ariz langsung offline. Percakapan itu terasa sangat singkat. Kebahagiaanku saat itu tak dapat aku ungkapkan. Aku merasa senang bisa disapa orang yang sangat aku kagumi. Ada perasaan senang di hati, terbesit dalam pikiranku apa yang pernah dikatakan Andin dulu. Segera kutepis hal itu, karena  mungkin hal itu beliau lakukan ke semua mahasiswanya yang sedang menyusun skripsi.
Setelah percakapan itu, aku pun hanya sesekali bertanya kepada beliau tentang skripsiku. Tak pernah ada kontak lagi antara kami.
-;-
Kini semua tugasku sebagai mahasiswa telah terkikis sedikit demi sedikit. Hingga besoklah puncaknya. Puncak dimana aku akan menjadi seorang wisudawati.
Hari ini aku akan menjemput ummi dan abi di terminal, mereka datang lebih awal supaya besok pagi tidak terlambat dan dalam keadaan fresh.
Saat aku menuju terminal kudapatkan sebuah sms baru. Sebuah nomor baru. Lalu kubuka sms yang berbunyi:
‘Assalamu’alaikum.wr.wb. Zia, selamat ya besok Zia udah mau wisuda. Maafkan kakak, tidak bisa menepati janji kakak untuk menemui ummi dan abi Zia saat wisuda besok. Kak yakin ada yang jauh lebih baik dan  jauh lebih pantas bersanding dengan Zia dibanding kakak. Sekali lagi maafkan kakak ya Zia.’
 -Zulfikar Setiadi-
Air mataku menetes bulir demi bulir. Aku benar tak kuasa menolak emosi hatiku. Dia memang bukan jodohku. Tersirat perasaan kecewa mendalam. Setelah menghilang tanpa kabar sama sekali dengan pemberian harapan tinggi, kini dengan mudah dia mengingkari janji tanpa suatu alasan yang pasti. Namun, segera kuhapus air mataku. Kuingat sebenarnya tak ada kontak lagi antara kami pun adalah permintaanku. Ini bukan kesalahan mutlak Kak Zul. Aku berusaha meyakinkan diri, janji Allah itu pasti. Kubalas sms itu tanpa menampakkan kekecewaanku.
‘Wa’alaikumsalam.wr.wb. Iya kak jika itu sudah pilihan kakak. Zia juga minta maaf atas semua kesalahan Zia sama kakak.’
Isi smsku singkat. Sengaja aku tidak bertanya alasan Kak Zul, Aku tahu sosok dia yang tak akan gegabah dalam memutuskan sesuatu. Pasti ada alasan yang sebenarnya bisa diterima. Jika aku tanyakan pun itu tak tak akan merubah keadaan. Terimakasih Kak Zul. Biarlah aku merasakan kekecewaanku ini tanpa seorang pun mengetahui.
-:-
Alhamdulillah, akhirnya hari ini adalah salah satu hari yang sangat aku tunggu . Hari ini aku akan wisuda dengan 3000 mahasiswa lainnya. Kekecewaanku kemarin oleh Kak Zul telah sirna karena kesibukanku akan persiapan wisuda.Abi dan ummi tampak bahagia kini anak semata wayangnya akan menjadi sarjana.
‘Ingat, kini adalah awal perjuanganmu Zia.’ Nasehat abi malam tadi.
Acara terasa begitu khidmat. Aku sempat meneteskan air mata saat Rektor berpesan akan arti kehidupan. Selain itu, kulihat mata abi yang berkaca-kaca dan mata ummi yang sesekali mengusap pipinya dengan tisu karena basah saat aku terpanggil ke depan.
Setelah acara selesai, sahabat dan seluruh kerabat memberikanku ucapan demi ucapan. Beberapa rangkaian bunga aku dapatkan.
Tiba-tiba sahabatku Andin mengagetkanku dari belakang. Dia adalah sahabat terbaikku semasa bangku perkuliahan. Namun sayang, kami tidak bisa wisuda bersama saat ini.
‘Ziaaaa.. selamat ya. Mudah-mudahan aku cepat nyusul’ dia memberikan aku sebuah rangkaian bunga yang indah.
‘Aamiin, sahutku. Makasih ya sayang’ Kupeluk sahabatku itu.
‘Dan ini, ada kado spesial buatmu.’ Seru Andin sambil kembali mengeluarkan rangkaian bunga cantik yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya dengan tangan kiri.
‘Dari siapa Ndin?’ tanyaku heran.
‘Ada yang mau lamar kamu tuh, baca aja deh.’ Andin sedikit sewot dengan lesung pipitnya.
Kata lamar yang dikatakan Andin mengagetkanku, kak Zul sudah pasti tidak akan melakukan hal itu karena dia telah pamit padaku. Lalu siapa? Benakku bertanya. Segera kubuka note kecil dalam rangkaian bunga itu.
Setelah sekian lama perasaan ini tereintegrasi
Hari  ini adalah limit yang tepat untuk mendeferensiasi semua ini
Saya adalah seorang variabel y yang ingin meminta izin padamu variabel x agar kita bisa membuat suatu persamaan bersama.
-Khawarizmi Al-Farisi-
Aku bingung seolah tak percaya, kulirik wajah Andin. Ia memandangku pasti.
‘Ini serius Ndin? Kamu pasti bercandain aku yah?’ aku masih tak percaya.
‘Ini serius Zia.’ Andin memastikan.
‘Pak Ariz sudah menemui ummi dan abi seminggu yan lalu Zia. Ummi dan abi telah mengizinkan, tapi ummi dan abi akan sepenuhnya memberi kamu wewenang untuk memutuskan hal ini. Kami tidak akan memaksa.’ Ummi yang sejak tadi disampingku memulai suatu perbincangan serius.
Aku benar-benar heran mengapa ummi dan abi sama sekali tidak membicarakan hal ini dari tadi malam. Setidaknya,aku tidak akan shock seperti ini.
Tampaknya Pak Ariz telah memperhatikanku dari jauh. Kemudian tiba-tiba Pak Ariz menghampiriku dari belakang.
‘Maaf, saya tidak pernah berbicara langsung padamu Zia. Karena sekaranglah waktunya, bersediakah kamu untuk saya pinang?’ Pak Ariz memang orang yang tak pernah basa basi, beliau langsung to the point.
Aku menghela nafas. Ini adalah jawaban dari Sang Khalik, aku tau bahwa Pak Ariz tentu jauh lebih baik dari Kak Zul. Aku baru mengerti ungkapan Pak Ariz ‘gak sabar menunggu Zia wisuda’ saat chat perdana kala itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, kuanggukkan kepalaku dengan iringan senyuman tanpa berkata. Pak Ariz, Andin, ummi dan abi pun ikut mengiringi senyumanku. Alhamdulillah. Kini sebagian mimpiku telah terwujud. Inilah sebagian puncak kebahagiaanku. Kini aku meraih sebuah kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts