Kamis, 30 Januari 2014

Jika Ini yang Terbaik Part II

‘Hari ini aku harus menghubungi kak Zundi,’tekadku.
Setidaknya aku bisa sms dia untuk meminta dia membangun kembali Anis, aku yakin sekarang sudah waktunya anis serius akan hal itu, sebentar lagi pula kami lulus. Kak Zundi pun kini dia telah punya pekerjaan yang mapan. Lalu diam-diam aku melihat nomor Kak zundi di hp Anis.
‘Assalamualikum.wr.wb. Maaf kak ganggu ini Farah temannya Anis, Farah mau minta bantuan kakak. Belakangan ini Anis sedang berduka pasca ditinggal ayahnya, katanya kakak mau ketemu sama Anis yah? Farah minta tolong sama kakak untuk mengembalikan kembali semangatnya kak,jangan buat dia kecewa ya kak. Makasih.’
Tiba-tiba hatiku bergetar kuat saat kucoba untuk mengirim sms tersebut, tak bisa kupungkiri aku pun adalah pengagumnya. Cerita-cerita Anis tentangnya kadang membuatku makin kagum padanya. Segera kutepis perasaan itu, yang lebih penting kini adalah Anis, misiku kini harus mengembalikan semangatnya yang telah hilang. Dan Kak Zundi sepertinya adalah orang yang sangat tepat untuk diajak kerjasama dalam misi ini.
-:-
Tumpukan kertas diatas mejanya begitu banyak, laki-laki itu tampak semangat mengerjakan semua pekerjaannya. Semangatnya makin menggebu mengingat hari ini dia akan mengungkapkan isi hatinya untuk mendapatkan pasangan.
Dia memang bukan seorang direktur, namun keberadaannya disegani disana berkat semangat kerja yang dimilikinya dan sikapnya yang religius itu.
Sementara dia bekerja, hpnya berdering tanda sms masuk. Dia lihat layar hpnya, sms dari ‘calon istri idaman’. Kaget tak terduga, jantungnya berdetak kencang, segera dia raih hpnya. Dia berdiri, disimpan semua pekrjaan yang dari tadi ia tekuni. Dia tatap layar hp sebelum membuka isi pesannya.
Berbagai pertanyaan timbul di hati dan pikirannya. Bagaimana mungkin ‘calon istri idaman’ bisa sms, sedangkan dia sendiri belum pernah menghubunginya. Dia masih menyimpan perasaanya dalam hati. Apa ini jawaban dari Allah untuk doanya selama ini? Begitu banyak pertanyaan dibenaknya sebelum dia buka sms itu. Entah mengapa dia begitu lama menatap layar hp tanpa membukanya.
Perlahan dia pun mengklik ‘open’, entah apa isi sms itu. Dia tampak lunglai, dia langsung duduk kembali ke tempat semula. Kedua tangannya memegang dan meremas kepalanya. Dialah Zundi Prasetya.

-;-

‘Far kamu ikut aku yah?selesai perkuliahan. Anis langsung menarik tanganku.
‘Ikut kemana sih? Tanyaku sambil membereskan semua perlatanku kedalam tas.
‘Ketemu Kak Zundi sekarang.’ Serunya sambil memperlihatkan senyumnya yang kurasa adalah senyum kedua yang aku lihat pasca kesedihannya.
‘Hmm, gimana yah nis, aku ganggu gak nih? Seruku cengengesan.
‘Faraah, Kak Zundi nyuruh aku bawa temen soalnya bukan muhrim katanya.’jawabnya.
‘Ya sudahlah, aku ikut.’ Kami pun berjalan bersama menuju taman kota dekat kampus.
-:-

Tampak seorang laki-laki berkemeja putih telah duduk di sebuah kursi taman. Dia tampak sedang membaca buku. Namun pikirannya tak tentu arah, dia belum tahu apa langkah yang akan dia lakukan sekarang. Rencana awalnya apakah akan berubah karena sms itu?
Tampak dari kejauhan dua orang perempuan berhijab berjalan menuju dirinya. Hati dan jantungnya berdebar kencang saat yang dia lihat itu adalah Anis dan wanita yang dia puja selama ini. Farah Anggini. Dia semakin risau, harusnya dia saja yang membawa teman, bukan Anis karena Anis pasti akan mengajak temannya itu. Dia terlihat belum siap mengungkapkan isi hatinya di depan puajaanya.
Mereka makin mendekat, artinya dia harus segera putuskan apa yang akan dia lakukan.
‘Assalamualaikum, kak Zundi.’ Anis tampak lebih dulu menyapa.
Dia langsung berdiri membalas salam, lalu mempersilahkan mereka duduk.
Perbincangan dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan kak Zundi tentang kampus. Anis tampak lebih semangat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan Farah hanya sekedar melengkapi saja. Setelah itu, kak Zundi memberikan Anis kata-kata bijak dan petuah tentang kepergian ayahnya itu.Anis pun tampak mengangguk diiringi senyum semangat menggebunya. Sejenak suasana hening tanpa ada yang berbicara.
‘Oh ya sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan.’ Tiba-tiba Kak Zundi memecah kesunyian.
‘Aduh sebenarnya saya malu mengungkapkannya, tapi mau tidak mau ini adalah misi saya. Saya meminta Anis bertemu disini karena ada yang ingin saya ingin memberikan amanah kepada Anis. Boleh?’Perkataanya tiba-tiba terputus.
‘Amanah apa kak? Anis tampak penasaran.
‘Saya sebenarnya sedang mengagumi sosok untuk dijadikan pasangan hidup dan saya yakin sosok itu dekat dengan Anis sehingga saya pikir saya bisa menghubunginya lewat Anis. Karena saya tahu Anis adalah orang yang simple dan dapat diajak kerja sama.’ Perkataan itu mengalir dari mulutnya.
Semangat Anis tampak sedikit menurun, namun dia adalah orang yang pandai menyembunyikan keadaan. Dia tampak masih senyum walau Farah tahu rasa pahit itu sangat terasa. Farah pun tak habis pikir kepada Kak Zundi, padahal dia telah mengirim sms kepada kak Zundi. Mengapa dia malah menyakiti Anis. Apa dia tidak mengerti maksud sms itu.
‘Oh gitu ya Kak. Emang siapa Kak? Rasa penasaran Anis makin tinggi. Tangannya bergetar, aku bahkan bisa merasakan getaran yang dialami Anis.
‘Maaf, saya tidak pernah bilang sebelumnya. Bahkan saya tidak menyangka bahwa Anis justru datang bersamanya saat ini.’ Farah dan Anis langsung berpandangan.
‘Awalnya saya ingin mengurungkan untuk berbicara karena saya lihat Anis datang bersama Farah, namun ini sudah rencana awal saya. Farah, Kakak ingin mengenal kamu lebih dalam untuk menjalankan ibadah saya yaitu pernikahan.’ Kalimat terakhir itu, dia ucapkan dengan terbata-bata.
Farah memegang tangan Anis erat, getaran Anis makin keras namun dia tetap berusaha tenang. Tangannya basah dengan keringat. Farah pun tak bisa berbuat apa-apa kala itu. Farah tidak mungkin harus memaki Kak Zundi. Ada sedikit senang di hati Farah karena dia bisa dikagumi sosok hebat seperti kak Zundi, namun ini bukan yang dia harapkan saat ini. Farah tak bisa bayangkan kondisi Anis setelah ini.Suasana kembali hening.
‘Oh iya Kak, Farah ini teman terbaikku. Gak salah deh kakak pilih dia.Iya kan Far?’ Kulihat ada setetes air mata di pelupuk matanya. Aku hanya membalas sebuah senyum terpaksa padanya.
‘Saya tak perlu jawaban hari ini, ini hanya ungkapkan perasaan saya selama ini. Jika farah bersedia saya akan siapkan semua segera. Saya pamit berangkat dulu ya.’ Tampaknya Zundi langsung peka akan suasana itu, dia memilih pergi daripada tenggelam dalam suasana yang tidak dia mengerti.
‘Assalamualaikum, Farah, Anis.’ Kata terakhir yang Zundi ucapkan.
‘Waalaikumsalam.’ Farah dan Anis menjawab berbarengan.
Aku menuduk, begitu pula Anis. Tanganku masih erat menggenggamnya, namun perlahan tangannya berusaha melepas genggamanku. Aku pandang wajahnya, tampak memerah. Air mata telah membasahi pipinya. Kupeluk dia erat dirinya. Namun, dia kembali berusaha melepas pelukanku. Aku bahkan bingung apa yang harus aku katakan. Sepertinya dia juga kesal padaku.
‘Aku tak menyangka semua akan berakhir seperti ini, Sudahlah mungkin kamu memang akan jadi terbaik untuknya Far.’suara Anis tersedu.
Dia lalu berdiri dan berlari. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku pun mengejarnya. Terlambat, dia sudah naik ke sebuah taksi.
Aku coba menghubungi Anis, namun tidak dia angkat. Kucoba lagi namun kini berubah dengan suara operator ‘Nomor telepon yang anda tuju sedang tidak aktif’. Aku pun memilih untuk pulang ke rumah.
Hari itu, entah berapa kali aku coba menghubungi no Anis. Tapi masih tidak aktif. Lalu kucoba hubungi bibi Anis. Dan syukurlah, Anis ada dirumahnya, walaupun kata bibi dia belum keluar kamar sejak datang.
Setelah selesai shalat isya, Zundi tak bisa tenang. Kini dia telah bisa mengungkapkannya. Namun, suasana tadi tidak memperlihatkan kesenangan pada wajah Farah maupun Anis. Dia berpikir apa jalan yang dia tempuh selama ini salah. Apa Anis justru bereprasangka bahwa dia menyukai Anis. Hatinya bergejolak.
Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Farah. Pertama kali dia akan menghubunginya.
Dia cari kontak ‘calon istri idaman’ lalu dia pijit tombol hijau untuk memanggil.
‘Assalamualikum.Farah.’ sapanya pertama.
‘Wa’alaikumsalam kak.’ Suara Farah menjawab.
‘Farah, maafkan saya jika tadi perkataan saya itu menyinggung perasaaan kamu. Saya hanya minta kepastian agar saya melanjutkan ke tahap selanjutnya, menemui orang tua kamu.’ Zundi berusaha tegas.
‘Farah yakin, semua wanita akan mengagumi sosok Kakak, begitu juga Farah. Tapi sekarang masalahnya bukan itu Kak. Ada sosok yang lebih mengharapkan kakak dari pada Farah. Dan itu sahabat farah sendiri. Farah tidak mau apa yang farah lakukan bisa menyakiti hati Anis. Farah tidak mau jika akibat masalah seperti ini persahabatan kami harus retak kak’ Farah menjawab dengan bijak.
Dugaan Zundi ternyata benar langkah dia untuk mendekati Anis ternyata menimbulkan Anis salah paham akan tindakan dia.
‘Maafkan kakak farah, Kakak sama sekali tidak bermaksud memecahkan persahabatan kalian. Selama ini kakak menghubungi Anis adalah untuk mengetahui lebih tentang kamu. Agar kakak tidak langsung kontak dengan mu. Kakak ingin cinta kita suci tanpa ada banyak pertemuan sebelumnya. Dan kakak pikir Anis bisa bantu kakak.
‘Maafkan Farah kak, Farah meminta kakak untuk menemui Anis dan klarifikasi masalah kemarin. Dan kakak siap memilih Anis.’
‘Tapi Farah, yang kakak suka adalah kamu bukan Anis.’
Terdengar suara tersedu-sedu menangis disana. Seperti sedang menangis.
‘Ya sudahlah Far, kakak akan mencoba bersabar menunggu keputusan kamu, namun maaf kakak tidak bisa menemui Anis. Sepertinya kamu sudah lelah Far. Sebaiknya kamu segera istirahat. Maaf telah menggangu. 'Wassalamualaikum.’ Tutup Zundi.
‘Waalaikumsalam. Jawabnya lirih.
Zundi tampak meneteskan air mata. Dia segera mengambil wudhu, untuk menenangkan hatinya.(bersambung)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PTS Matematika

 Kelas 8 https://quilgo.com/form/ZTc0fZIHun7dq5Mf

Popular Posts